Portal Berita Online
Ads Beras Haji

Alternatif Konsumsi Daging, Kementan Dorong Budidaya Kelinci

0 6

JAKARTA, KABARPANGAN.ID – Kementerian Pertanian (Kementan) selain meningkatkan populasi ternak untuk memenuhi kecukupan stok daging, juga mendorong sumber pangan dari produk hewani. Salah satunya adalah kelinci yang mengandung protein hewani yang tinggi

Kepala Balitbangtan Kementan Fadjry Djufry mengatakan, Kelinci mengandung protein tinggi yang dapat menjadi alternatif sumber protein unggulan di perkotaan.

“Budidaya kelinci merupakan salah satu alternatif dalam penyediaan daging untuk pemenuhan protein hewani dan sekaligus sebagai upaya peningkatan pendapatan masyarakat,” ujarnya dalam keteranganya, Selasa (25/8).

Terpisah, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jakarta, Arivin Rivale menjelaskan, dalam Desain Besar Pertanian Perkotaan DKI Jakarta 2018-2030, pengembangan budidaya kelinci dan produk olahannya menjadi salah satu dari 15 kategori komoditas yang akan dikembangkan.

“Target produksi komoditas kelinci dalam desain besar tersebut sebanyak seribu ekor pada tahun 2030 disertai dengan pengembangan olahan peternakan sebesar 100 jenis olahan,” ujarnya.

Menurut dia, ternak kelinci pedaging sangat potensial untuk dikembangkan di wilayah perkotaan karena dapat dibudidayakan pada lahan terbatas dan didukung oleh potensi biologis kelinci yang baik. Serta adanya pengembangan diversifikasi olahan daging kelinci dan hasil sampingnya.

“Maka pengembangan budidaya kelinci dapat menjadi sumber penghasilan sekaligus untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat,” tuturnya.

Ads Air Haji

Peneliti Peternakan Syamsu Bahar mengatakan sejalan dengan dinamika perkembangannya, sebaran pemeliharaan kelinci saat ini tidak hanya terbatas di daerah pedesaan tetapi juga menjadi fenomena yang menarik dan disukai masyarakat di perkotaan.

Budidaya ternak kelinci, lanjutnya, memerlukan beberapa komponen teknologi seperti bibit/pembibitan, pakan/nutrisi, perkandangan, reproduksi, kesehatan, panen/pascapanen, pemasaran, analisis usaha, serta teknologi pendukung lainnya.

“Salah satu jenis kelinci pedaging yang bisa dikembangkan sebagai sumber protein hewani yaitu NZW (New Zealand White) dan turunannya. Jenis ini telah beradaptasi dengan baik pada iklim tropis,” terang Syamsu.

Sementara Balitbangtan melalui Balai Penelitian Ternak (Balitnak) telah menghasilkan bibit unggul dari jenis-jenis kelinci yang tersedia. Salah satunya kelinci Rexsi Agrinak yang dilepas Kementerian Pertanian tahun 2017 dengan keputusan Mentan nomor 303/Kpts/SR.120/5/2017.

Kelinci Reksi Agrinak dikembangkan karena selain memiliki kelebihan pada warna bulu yang indah dan halus, Kelinci Rexsi Agrinak memiliki ukuran yang besar sehingga dapat dimanfaatkan dagingnya.

Soal budidaya kelinci, misalnya untuk 50 kelinci yang terdiri dari 40 induk betina dan 10 pejantan sebagai usaha skala menengah memerlukan modal investasi awal sebesar Rp 67 juta.

Sementara biaya operasional selama 1 tahun sebesar Rp 137 juta. Pendapatan pertahun yang bisa diperoleh sekitar Rp 277 juta dengan keuntungan Rp 73 juta atau Rp 6 juta per bulan. (mh/kp)

Leave A Reply

Your email address will not be published.