Portal Berita Online

Antisipasi Perubahan Iklim, Ada Tiga Strategi yang Dilakukan Kementan

0 8

JAMBI, KABARPANGAN.ID – Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan antisipasi perubahan iklim yang akan menimbulkan risiko pada daerah-daerah rawan. Salah satunya, bencana kekeringan.

Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sejak Mei 2020 telah terjadi peralihan musim kemarau dan diprediksi akan mengalami puncaknya pada Agustus dan September 2020.

Bencana kekeringan akan berpengaruh terhadap sub-sektor hortikultura di antaranya terjadi peningkatan serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) hama dan kerusakan tanaman akibat kekurangan air.
Ada tiga strategi yang akan dilakukan Kementan dalam mengatasi dampak kekeringan. Pertama, antisipasi dengan mengadakan pengkajian terhadap perubahan iklim untuk meminimalkan dampak negatif terhadap sektor pertanian.

Kedua, mitigasi untuk mengurangi reiiko terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca. Terakhir, adaptasi yaitu tindakan penyesuaian sistem alam dan sosial untuk menghadapi dampak negatif terhadap perubahan iklim,” kata Direktur Jenderal Hortkultura Prihasto Setyanto dalam keterangannya, Kamis (23/7).

Adapun langkah konkret yang dilakukan di lapangan adalah pengumpulan data dan informasi iklim dari UPTD BPTPH seluruh Indonesia, berkoordinasi dengan BMKG tentang prakiraan/Early Warning System (EWS) cuaca untuk tiga bulan ke depan dan antisipasi ketersediaan air hujan, menyampaikan EWS manajemen pola tanam ke Dinas Pertanian seluruh Indonesia, dan berkordinasi dengan perguruan tinggi maupun instansi terkait terutama informasi daerah rawan kekeringan dan kebanjiran.

Sementara Direktur Perlindungan Hortikultura Sri Wijayanti Yusuf mengatakan, salah satu Kebijakan Direktorat Perlindungan Hortikultura bertujuan untuk pengamanan produk hortikultura akibat Dampak Perubahan Iklim (DPI) melalui adaptasi dan mitigasi dengan sasaran lokasi sentra hortikultura yang rawan terkena kekeringan dan banjir.

Dalam penanganan DPI terhadap komoditas hortikultura di Indonesia, pihaknya telah memberikan fasilitas, di antaranta teknologi hemat air (irigasi tetes/sprinkler/kabut), pompanisasi, sarana pendukung (pipa/pralon/selang/tandon air ), teknologi panen air (embung, sumur dangkal, sumur dalam), penampungan air sementara (gorong-gorong beton).

Kepala BPTPH Provinsi Jambi Farda Sopian Simanjuntak mengatakan sangat mendukung program pemerintah dalam pengamanan produksi baik gangguan OPT maupun DPI. Salah satu di antaranya yaitu dengan mengoptimalkan peran POPT di lapangan untuk dapat meningkatkan dalam pengamatan, bimbingan pengendalian dan permasalahan permasalahan OPTdan DPI. (mh/kp)

Leave A Reply

Your email address will not be published.