Portal Berita Online
Ads Beras Haji

Hasilkan Jagung Rendah Aflatoksin, Petani NTB Siap Penuhi Kebutuhan Nasional

0 11

LOMBOK, KABARPANGAN.ID – Komoditas jagung menempati urutan kedua terbesar setelah Padi. Selain sebagai sumber bahan baku industri pakan ternak, jagung juga digunakan sebagai sumber bahan baku industri pangan dengan syarat mempunyai kadar alfatoksin di bawah 20 ppb.

Akan tetapi, pemenuhan jagung untuk industri pangan ini masih sangat tergantung dari luar negeri. Menjawab tantangan tersebut, dengan dimotori oleh Koperasi Dinamika Nusa Agribisnis (DNA) di Lombok Timur, akhirnya mampu merintis produksi jagung rendah alfatoksin yang selama ini tergantung dari luar negeri.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Husnul Fauzi mengatakan, cikal bakal produksi jagung rendah alfatoksin di NTB sudah dilakukan sejak tahun 2019 dan mampu menghasilkan rata-rata 20 ton jagung rendah alfatoksin yang digunakan oleh perusahaan penghasil susu sapi segar.

“Direncanakan produksi jagung rendah alfatoksin pada tahun 2020 akan lebih besar dengan target produsi sebesar 20.000 ton yang berasal dari 3.500 hektar lahan,” katanya dalam keterangannya, Senin (3/8).

Kesempatan yang sama, pengusaha muda dari PT Datu Nusa Agribisnis Dean Novel menyebut, ia mulai mengembangkan tanaman jagung 200 hektar (ha) di kebun inti sekitar Lombok, NTB. Kemudian membangun kemitraan dengan 7.200 kepala keluarga petani jagung melalui Koperasi DNA, dengan luasan tanaman jagung 7.000 ha, kebun plasma.

Ads Air Haji

Mulanya, kata Dean, ia fokus bisnis jagung pipilan untuk pakan ternak dengan perlakuan stok gudang, akhirnya Dean mengembangkan produksi jagung khusus subtitusi impor, berupa jagung rendah aflatoksin. Di samping hasil utama berupa jagung, juga diperoleh limbah berupa tongkol jagung yang dijadikan Corncobs Meal dengan volume antara 200 hingga 300 kilogram dari setiap ton jagung pipilan basah.

Saat ini, kata Dean, pihaknya melakukan ekspor 200 hingga 400 ton dalam sebulan. “Rata-rata 300 ton, setiap bulannya dengan harga 135,00 USD per metrik ton, semua dipasok dari Lombok, hingga saat ini buyer dari Korea, puas memakai produksi kami,” tambah Dean.

Sementara itu, terkait jagung rendah aflatoksin Direktur Pemasaran Tanaman Pangan Gatut Sumbogodjati mengatakan, selain memperhatikan kandungan air pada produksi jagung petani, kadar aflatoksin yang mencapai minimal 20 ppb dapat menambah nilai jual produk jagung petani.

Hal ini dibutuhkan untuk membuat pakan ternak sehat yang dibutuhkan oleh industri. Langkah menggalakkan produksi jagung rendah aflatoksin di dalam negeri juga untuk menekan impor jagung, dimana komoditas jenis ini sebelumnya lebih banyak didatangkan dari luar negeri oleh sektor industri.

Terpisah Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi menyebut sesuai arahan Mentan Syahrul Yasin Limpo bahwa pertanian harus terus bergerak mendorong produksi yang cukup dan berkualitas. Peningkatan produksi selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, juga guna mengurangi impor atau meningkatkan volume ekspor. (mh/kp)

Leave A Reply

Your email address will not be published.