Portal Berita Online
Ads Beras Haji

Jabotabek Diprediksi Krisis Daging Sapi

0 20

Jakarta, Kabarpangan.id – Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Muladno memperkirakan daerah Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi (Jabotabek) akan mengalami krisis daging sapi berkepanjangan hal ini disebabkan harga sapi bakalan dari Australia mahal. Kemudian impor sapi bakalan dari Brazil atau Meksiko itu juga tinggi harganya karena terlalu jauh secara geografis.

Dia menambahkan, sapi bakalan di Indonesia disiapkan oleh peternak untuk kebutuhan hari kurban. “Sehingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan daging dalam negeri dan bahkan populasinya makin berkurang,” ujar Muladno dalam video daring, Minggu (24/1/2021).

Selain itu, sapi bakalan betina dipotong itu melanggar Undang-Undang atau masuk tindakan pidana. “Hingga kini masih banyak kejadian karena memang terjadi kelangkaan daging,” ucap dia.

Menurut dia, saat ini Jabotabek yang mengalami kekurangan daging sapi, bukan Indonesia. Delapan provinsi dengan populasi terbanyak tidak saggup memenuhi kebutuhan Jabotabek.

Muladno menjelaskan akibat harga daging sapi terlalu tinggi, pedagang di DKI Jakarta mogok jualan. “Ini menjadi perhatian kita semua khususnya pemerintah bahwa harga yang terlalu tinggi lantaran dampak ketergantungan Indonesia kepada negara lain terutama Australia. Ini akan berbahaya jika terus menerus terjadi,” jelas dia.

Ads Air Haji

Selama ini Jabodetabek sebagai wilayah konsumen dan yang bisa memasok berdasarkan data statistik di delapan provinsi yakni Jawa Timur, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Lampung dan Sulawesi Selatan.

Selain itu, pasokan daging dipenuhi berasal dari Australia dengan populasi sapi mencapai 26 juta ekor. “Jarak pengiriman antara Darwin ke Jakarta lebih dekat daripada Sulawesi ke Jakarta. Kemudian India merupakan eksportir daging kerbau terbesar di dunia,” ungkap Muladno.

Dia menyebutkan, penduduk Australia sekitar 26 juta orang dengan produksi sapi 26 juta ekor, Indonesia jumlah penduduknya mencapai 270 juta jiwa, namun produksi sapinya hanya 17 juta ekor.

“Harga sapi bakalan di Australia meningkat, sehingga harga daging di DKI juga ikut naik. Importasi daging kerbau untuk konsumsi berdampak negatif terhadap industri penggemukan sapi (feedloter) maupun peternakan rakyat,” ungkap dia.

Maka untuk menyelesaikan persoalan ini, Muladno mengusulkan agar industri sapi diserahkan ke pebisnis secara total dan tugas pemerintah hanya menerbitkan regulasi kondusif bagi pelaku usaha. Misalnya industri perunggasan dibiarin tanpa intervensi pemerntah ternyata bisa maju pesat.

Kemudian populasi peternakan sapi 90 persen dimiliki oleh peternak kecil perlu dikonsolidasikan menjadi pengusaha kolektif profesional melalui pendampingan. “Apabila peternak kecil berusaha sendiri pasti tidak akan efektif bisnisnya dan akan kalah dengan pengusaha besar,” terang dia. (mh)

Leave A Reply

Your email address will not be published.