Portal Berita Online

Kamilah Hidroponik, Bukti Eksistensi Pertanian di Masa Pandemi

0 47

Jakarta, Kabarpangan.id – Pandemi Covid-19 membuat masyarakat dipaksa untuk kreatif dan tetap produktif. Hal ini juga berlaku pada sektor pertanian. Kondisi ini juga yang akhirnya membuat Ahmad Riyadi menghadirkan budidaya sayuran hidroponik bernama ‘Kamilah Hidroponik’.

Kreativitas ini timbul setelah Ahmad Riyadi harus berhenti dari tempat kerjanya di Arab Saudi karena pandemi. Kreativitas yang dihadirkan di sektor pertanian ini mendapat apresiasi dari Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL).

Dalam berbagai kesempatan, Mentan SYL mengajak seluruh pihak tak terkecuali generasi milenial untuk tetap produktif dan inovatif dalam menghadapi pandemi yang tidak dapat diketahui kapan berakhirnya.

“Dengan adanya pandemi ini, perlu kegiatan produktif yang berkontribusi bagi perekonomian nasional, di antaranya kegiatan pertanian yang maju dan modern,” ujar Mentan.

Mentan pun menegaskan sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang mampu bertahan dan bangkit dari keterpurukan akibat pandemi. Pertanian juga membuka lapangan kerja bagi siapa saja yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, berharap generasi milenial mampu memanfaatkan peluang di tengah wabah Covid-19.

“Menghadapi pandemi Covid-19, penduduk Indonesia akan banyak mengonsumsi produk dalam negeri dan olahan yang sehat. Seperti contohnya komoditas bawang dan produk olahan pangan lainnya. Peluang ini harus bisa dimanfaatkan oleh petani pengusaha milenial,” ujar Dedi.

Peluang ini juga yang akhirnya dimanfaatkan Ahmad Riyadi. Tak mau diam dengan kondisi yang ada, ia dan istrinya belajar hidroponik dari Youtube channel hingga membuka budidaya sayuran hidroponik ‘Kamilah Hidroponik’.

Tepatnya Mei 2020, bermula dari satu instalasi hidroponik yang ia buat sendiri, Ahmad Riyadi dan istrinya memenuhi rasa penasaran mereka akan teknologi budidaya modern ini. Bukan karena tak punya cukup lahan untuk bertani, melainkan rasa ingin tahu yang mendalam bagaimana aneka tanaman sayur bisa tumbuh subur pada media air.

“Kami sama sekali tidak ada latar belakang pendidikan pertanian, belajar tentang hidroponik pun dari nol. Kami menyimak tutorial di Youtube dan belajar dari teman di komunitas hidroponik HID’s,” ujar istri Ahmad Riyadi, Anis Ainul yang menjadi penggerak Kamilah Hidroponik. Hobi mereka kini berkembang menjadi sebuah usaha.

“Bila hidroponik lekat dengan imej pertanian perkotaan yang identik dengan keterbatasan lahan, maka sebaliknya Kamilah Hidroponik justru hadir di tengah-tengah pertanian konvensional di pedesaan. Beberapa instalasi hidroponik berjejer rapi di atas tanah kurang lebih seluas 1000 meter persegi di Desa Ging-Ging, Kecamatan Bluto, menyajikan aneka sayuran daun dan buah yang segar,” ujar Ahmad.

Beberapa jenis sayuran seperti selada, samhong, kailan, pakchoy, bayam brazil, sawi pagoda yang tidak ditemukan di pasar lokal dan hampir belum pernah dikonsumsi oleh warga setempat bisa dibeli di sini. Tanaman mint, tomat dan cabe rawit tak luput dari tangan dingin bapak dua anak ini.

Tak berhenti di situ, Kamilah Hidroponik kini merambah pada penjualan instalasi hidroponik dan budidaya jamur tiram. Ketika ditanya modal, kompak suami istri ini menjawab habis modal mencapai Rp 20 juta. Namun kini usahanya tidak sia-sia, sekali panen ia mendapatkan omset sekitar Rp 2-3 juta per bulannya.

Produk sayur segar dari Kamilah Hidroponik dipasarkan secara online. Bahkan sudah bermitra dengan beberapa café. Permintaan dari luar kotapun dilayani dengan memanfaatkan jasa ekspedisi. Tak jarang pesanan sayur diantarkan sendiri ke konsumen sebagai bentuk pelayanan prima.

Saat ditanyakan kiat menjaga tanaman tumbuh subur dan mulus, Ahmad Riyadi menjelaskan bahwa kualitas tanaman hidroponik sangat ditentukan oleh formulasi nutrisi serta pengendalian hama dan penyakit.

“Musim penghujan seperti ini, biasanya rawan serangan ulat. Melalui kecukupan nutrisi tanaman dapat hidup sehat sehingga ketahanan terhadap serangan hama dan penyakit lebih baik. Untuk mengantisipasi serangan HPT, saya menggunakan pestisida nabati dari bawang putih,” ujarnya.

Kamilah Hidroponik menggunakan pestisida nabati bawang putih. Siapkan 5 siung bawang putih, kupas, haluskan dan campurkan dengan 1 liter air. Lakukan fermentasi selama 1×24 jam dan saring. Aplikasi dilakukan tanpa pengenceran dengan interval 1-2 kali seminggu. Penyemprotan dilakukan pagi sebelum matahari terbit atau sore setelah matahari terbenam, karena hama terutama ulat munculnya pada waktu tersebut.

Usaha sayuran ini bukan tanpa kendala. Persepsi masyarakat yang menganggap bahwa sayuran hidroponik berbahaya bagi kesehatan menjadi kendala dalam perluasan pemasaran. Namun, pelaku budidaya sistem hidroponik seperti Ahmad Riyadi tak menyerah.

Bersama-sama dengan Petugas Penyuluh Pertanian menyosialisasikan secara masif keunggulan sistem budidaya hidroponik dan produk panennya. Ahmad dan Anis menuturkan bahwa kehadiran usaha sayur hidroponik yang bebas pestisida kimia di masa pandemi sangatlah membantu warga.

“Semakin beragam sayuran yang dikonsumsi masyarakat, semakin beragam pula asupan nutrisi. Diharapkan dengan kecukupan nutrisi, masyarakat bisa hidup sehat dan terbebas dari penularan virus Covid 19 dan penyakit lainnya. Dengan harga terjangkau, warga mendapatkan akses untuk mengenal dan mengkonsumsi aneka sayuran. Aplikasi hidroponik pun mudah, praktis dan dapat menghemat biaya tenaga kerja dan perawatan” ujar mereka. (mh)

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.