Portal Berita Online
Ads Beras Haji

Kawal Produksi Padi, Kementan Kendalikan Serangan Penggerek di Subang

0 19

SUBANG, KABARPANGAN.ID – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Balai Besar Peramalan OPT (BBPOPT) mengamankan produksi padi dari serangan penggerek di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Pengamanan tersebut salah satunya dilakukan Bimbingan Teknis Gerakan Pengendalian (Bimtek Gerdal).

“BBPOPT beserta jajaran dari Kementan berkomitmen untuk mengawal kegiatan pengamanan produksi pangan nasional sehingga kami terus bergerak di lapangan untuk pengamanan produksi,” ujar Ketua BBPOPT, Enie Tauruslina dalam keterangannya, Senin (28/9).

Bimtek dan Gerdal Penggerek Batang Padi (PBP) dilakukan di Kelompok Tani Srijaya VII, Desa Rancajaya, Kecamatan Patokbeusi, Subang, Jabar. Materi Bimtek yang disampaikan yaitu pengelolaan PBP, kaidah enam tepat dalam aplikasi pestisida, penggunaan pestisida secara bijaksana, dan pembuatan larutan pekat.

“Untuk mengetahui strategi pengendalian yang tepat tentang PBP di lapangan diperlukan pengetahuan tentang dinamika populasi PBP itu,” katanya.

PBP dapat berkembang 2-3 generasi setiap musim tanam, dengan siklus hidup telur 4-8 hari, larva 19-29 hari, pupa 8-12 hari dan ngengat 4-7 hari. Ngengat hama ini mampu terbang 4-10 km dengan bantuan angin dan tertarik dengan cahaya di malam hari saat terbang. Ngengat PBP mampu bertelur 200-500 butir dan larva yg telah menetas dapat menyerang dua sampai tiga batang dan berpindah dengan benang larva, air atau angin (berayun). Waktu yang diperlukan larva untuk masuk ke dalam batang adalah 10 hingga 24 jam.

Ads Air Haji

Dia menjelaskan pada saat puncak penerbangan atau pada saat ditemukan kelompok telur di lapangan dapat dilakukan pemasangan pias parasitoid. Hal ini bertujuan agar parasitoid berada pada saat yang tepat ketika telur belum menentas sehingga dapat memparasitasi kelompok telur PBP.

“Efektivitas penggunaan pias Trichogramma sp antara 30-70 persen. Tergantung kondisi lingkungan. Namun cara tersebut dapat mengurangi biaya dan aman bagi lingkungan,” jelasnya.

Secara sederhana petani dapat mengamati penerbangan ngengat PBP pada lampu rumah. Pada saat itu, petani dapat melihat di pertanaman dan mengumpulkan kelompok telur PBP lalu disimpan dalam platsik dan diamati perkembangan kelompok telur setiap hari. Jika sebagian besar telur sudah menetas menjadi larva, maka saat itu adalah saat yang tepat untuk mengendalikan larva di pertanaman. Pengendalian paling efektif maksimal hingga 15 hari setelah penetasan.

Lebih lanjut Irwan menegaskan bahwa pengendalian PBP harus dituntaskan di persemaian. Jika ditemukan kelompok telur 0,3/m2 dan telah menetas dapat dilakukan aplikasi insektisida berbahan aktif karbofuran dengan dosis 4-6 kg/500 m2. Jika tuntas di persemaian dapat dipastikan aman di pertanaman sehingga beban pengendalian PBP berkurang.

Terpisah, dalam arahannya Dirjen Tanaman Pangan Suwandi mengatakan bahwa pengamanan produksi juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan proses produksi. Adanya gangguan serangan OPT dan dampak perubahan iklim menurut Suwandi harus dilakukan antisipasi dini dan upaya pengendaliannya. (mh/kp)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.