Portal Berita Online
Ads Beras Haji

Kedelai Impor Mahal, DPR Desak Kementan Berdayakan Petani Lokal

0 15

Jakarta, Hajinews.id – Mahalnya harga kedelai yang berdampak mogok massal produsen tahu dan tempe di berbagai daerah menjadi perhatian DPR RI. Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKS, Johan Rosihan meminta pemerintah segera memberdayakan para petani kedelai lokal serta mengelola harga jualnya agar tidak kalah bersaing dengan produk impor.

“Pemerintah harus segera mengambil kebijakan stabilisasi harga kedelai untuk menyelamatkan keberlangsungan usaha dari produksi tahu dan tempe apalagi pada masa pandemi ini harus ada prioritas untuk membantu ribuan usaha kecil menengah berbasis pemberdayaan produk lokal agar ekonomi nasional segera pulih,” katanya, Minggu (4/1/2021).

Kemudian, ia menjelaskan terjadinya lonjakan harga kedelai ini disebabkan oleh ketergantungan dengan impor dan lemahnya tata kelola perniagaan kedelai lokal. Sehingga harganya belum kompetitif.

Saat ini, lanjut dia, pemerintah harus sadar kalau ketergantungan impor pasti berdampak serius terhadap stabilitas harga dan ketahanan pangan. Maka, pemerintah harus segera mengambil langkah cepat dengan cara memberdayakan para petani kedelai lokal serta mengelola harga jualnya agar tidak kalah bersaing dengan produk impor.

Ia menambahkan kinerja pemerintah pada 2020 itu gagal mencapai target peningkatan volume produksi kedelai lokal. Realisasi luas panen tanaman kedelai di Indonesia selama tahun 2020 hanya mencapai 40,04 persen dari target yang telah ditetapkan pemerintah.

Ads Air Haji

Ia berharap ke depan pemerintah harus memberikan perhatian serius kepada petani kedelai lokal dan fokus mengembangkan kawasan komoditas kedelai terutama kawasan utama kedelai yang terdiri dari empat provinsi, yaitu Jawa Timur (Jatim) seluas 78.937 Ha, Jawa Tengah (Jateng) seluas 39.248 Ha, Jawa Barat (Jabar) seluas 37.393 Ha serta Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) seluas 30.864 Ha.

“Saya minta pemerintah segera melakukan langkah pengembangan kawasan utama kedelai seluas 127.419 hektare untuk peningkatan produktivitas dan melakukan ekstensifikasi agar kami tidak lagi tergantung dengan impor kedelai,” kata dia.

Selain itu, pemerintah harus bekerja keras pada tahun 2021 ini untuk meningkatkan produksi kedelai lokal karena tahun 2020 angka produksi kedelai hanya mencapai 0,323 juta ton jauh lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.

“Hal ini penting karena produk pertanian kami harus menjadi penyelemat dari keterpurukan ekonomi pada masa pandemi ini,” kata dia.

Sebelumnya Aksi mogok produksi yang dilakukan pengrajin tahu dan tempe wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi (Jabodetabek) yang berlangsung sejak Kamis (31/12/2020) akan berakhir pada Minggu (3/1/2021). Aksi mogok ini karena dipicu naiknya harga kedelai.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.