Portal Berita Online

Kementan Perluas Pasar Produk Hortikultura di Era Industri 4.0

0 11

JAKARTA, KABARPANGAN.ID – Pengembangan sektor pertanian memerlukan strategi komprehensif dari hulu hingga hilir. Menurut Menteri (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, pemanfaatan benih bermutu serta pengemasan yang baik adalah syarat produk pertanian memiliki daya saing dan nilai tambah.

Menanggapai hal tersebut, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Dirjen Hortikultura Kementan Bambang Sugiharto menyampaikan, bahwa tantangan daya saing cukup kompleks dan tidak bisa dikerjakan secara parsial sehingga harus diselesaikan bersama-sama dari awal sampai akhir dan berkelanjutan.

Menurutnya, ada lima tantangan daya saing produk hortikultura. Pertama, inkonsistensi mutu produk dan suplai. Kedua, harga produk mahal imbas tingginya biaya logistik dan produksi.

Kemudian, produk belum didesain sesuai permintaan pasar dan minimnya akses pemasaran. Lalu, diplomasi perdagangan internasional lemah.

“Terakhir, minimnya pemanfaatan teknologi. Sehingga produk cepat kadaluwarsa, mudah rusak, dan tidak menarik,” ujarnya dalam keterangannya, Selasa (29/9).

Ditjen Hortikultura bakal melakukan sejumlah upaya untuk menggenjot nilai tambah dan daya saing produk segar ataupun olahan sayuran, tanaman obat, buah, dan florikultura pada 2021.

Upaya yang dilakukan di antaranya registrasi kebun atau lahan usaha 400 unit, sertifikasi 150 unit Good Agriculture Practices (GAP), budi daya organik 50 unit dan registrasi bangsal 60 unit, serta penerapan GAP di 200 kelompok untuk sistem produksi dan penyediaan.

Pada aspek logistik, distribusi, dan nilai tambah bakal dilakukan distribusi sarana prasarana (sapras) pascapanen 150 unit dan cold chain 110 unit, termasuk menggiatkan penerapkan Good Handling Practices (GHP) pada 60 kelompok, menyalurkan sapras pengolahan 400 unit, serta pendirian pasar tani 100 unit dan subterminal agribisnis 40 unit, termasuk bantuan sewa gudang 1 unit, bantuan distribusi 1 paket, dan bantuan pembelian 1 paket.

Demi penguasaan pasar dan stabilisasi harga, akan mengintensifkan promosi dan mengoptimalisasi Pelayanan Informasi Pasar (PIP) di 205 kabupaten. “Kami juga mendorong pembentukan 40 korporasi petani,” katanya.

Sementara itu, Dirjen Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto mengatakan, peningkatan mutu dan kualitas merupakan tuntutan zaman seiring tingginya permintaan masyarakat, terutama produk organik.

“Kalau kita mau ekspor, ini justru menjadi penilaian utama. Karenanya, kami mendorong petani untuk mulai peka terhadap kebutuhan pasar dan prosedurnya. Sehingga, proses budidayanya menyesuaikan. Hasil akhirnya tentu bagi petani itu sendiri. Mereka yang akan lebih merasakan manfaatnya, seperti nilai jual meningkat dan permintaan melonjak,” tukasnya. (mh/kp)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.