Portal Berita Online
Ads Beras Haji

Kementan Sigap Tangani Dampak Perubahan Iklim di Kalbar

0 6

KALBAR, KABARPANGAN.ID – Menghadapi musim hujan di awal Oktober 2020, masyarakat tetap mewaspadai wilayah-wilayah yang akan mengalami musim hujan lebih awal, yaitu di sebagian wilayah Sumatera dan Sulawesi, serta sebagian kecil Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Secara teori menanam komoditi hortikultura pada musim hujan akan menghadapi kendala karena memicu berkembangnya Organisme Pengganggu Tanaman, terutama penyakit. Dampaknya, risiko kegagalan panen menjadi lebih besar. Beberapa OPT yang perlu diwaspadai antara lain antraknosa, layu fusarium dan bercak ungu.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto menyampaikan, bahwa salah satu kunci keberhasilan peningkatan produksi yaitu melakukan pengendalian OPT.

“Saya meminta petugas pengendali OPT yang berada di bawah Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura agar tetap semangat melakukan tugasnya dalam monitoring OPT, baik di musim hujan maupun pada musim kemarau,” ujar Prihasto dalam keterangannya, Selasa (29/9).

Prihasto menambahkan, Kementan di bawah komando Mentan Syahrul Yasin Limpo (SYL) tetap mendorong dan memacu jajaran di Kementan untuk lebih giat dalam penerapan teknologi pertanian. Ini dilakukan sebagai upaya pengelolaan OPT.

“Tujuannya tak lain untuk memastikan ketersediaan produksi hortikultura untuk tetap aman dan terjaga,” lanjutnya.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Florentinus Anum mengatakan, bahwa perubahan iklim berimplikasi terhadap munculnya ras, strain dan biotipe baru dari OPT.

Ads Air Haji

“Dampak dari perubahan iklim adalah berubahnya pola hujan, bergesernya awal musim, banjir, kekeringan, dan naiknya permukaan air laut yang mana hal tersebut otomatis memicu perubahawn pola hidup OPT sehingga dapat menyebabkan ledakan hama penyakit,” tutur Florentinus.

Beberapa hal yang menurutnya akan terus dilakukan di antaranya adalah mengoptimalkan pemanfaatan sarana prasarana seperti pompanisasi yang ada di petani. Selain itu mengintensifkan pemantauan dinamika serangan OPT serta penerapan sistem budidaya tanaman yang sehat.

Budidaya tanaman hortikultura di musim kemarau maupun di musim penghujan sebenarnya sama-sama memiliki risiko gagal panen. Perbedaannya terletak pada penyebabnya saja. Jika di musim kemarau biasanya disebabkan kurangnya pasokan air, sementara kalau di musim penghujan disebabkan adanya kelebihan air.

“Curah hujan tinggi juga akan menyebabkan kelembapan yang tinggi. Risiko gagal panen di musim hujan terutama disebabkan oleh penyakit tanaman yang berasal dari jamur dan bakteri,” ujar Kepala UPT Perlindungan TPH Kalbar, Yuliana Yulinda.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, kata Yuliana, jajarannya telah melakukan beberapa hal sebagai tindakan antisipasi, antara lain monitoring dan evaluasi kondisi iklim, baik itu melalui kerja sama dengan BMKG, SMPK maupun dari hasil pengamatan AWS yang kemudian dipadukan dengan analisis peramalan OPT.

Menyikapi merebaknya OPT di musim hujan, Direktur Perlindungan Hortikultura Sri Wijayanti Yusuf mengajak dan mengimbau petani untuk terus menggunakan bahan pengendali OPT ramah lingkungan.

“Harapannya produksi yang dihasilkan aman konsumsi. Jika pun menggunakan pestisida kimia perlu memperhatikan prinsip enam tepat yaitu tepat sasaran, mutu, jenis pestisida, waktu, dosis dan konsentrasi, serta cara penggunaan,” pungkasnya. (mh/kp)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.