Portal Berita Online

Kiat Atasi Penyakit Kanker Batang Buah Naga

0 8

JAKARTA, KABARPANGAN.ID – Komoditas holtikultura buah naga punya pangsa pasar yang luas baik domestik maupun luar negeri. Pemerintah sendiri tengah berupaya menggenjot produksi buah ini.

Buah naga atau Hylocereus polyrhizus bukanlah tanaman asli Indonesia. Namun tanaman ini cocok ditanam dengan kondisi Indonesia, beriklim tropis. Tanaman ini dapat tumbuh sampai ketinggian 800 meter dari permukaan laut.

Panen buah naga, biasanya antara bulan Januari sampai Desember. Pada 2012, banyak petani maupun pelaku usaha di bidang hortikultura yang berinvestasi untuk memproduksi buah naga di berbagai wilayah di Indonesia.

Sentra buah naga di Indonesia tersebar luas, antara lain Jawa Tengah (Wonogiri, Cilacap, Kudus, Rembang, dan Tegal), D.I Yogyakarta (Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunung Kidul), dan  Jawa Timur (Banyuwangi, Jember, Lumajang, Gresik, dan Malang).

Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto mengatakan, pihaknya akan terus mendorong untuk meningkatkan produksi melalui Gerakan Mendorong Produksi, Meningkatkan Daya Saing, dan Ramah Lingkungan (Gedor Horti).

Hal tersebut sejalan dengan instruksi Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo untuk terus memacu produksi dan meningkatkan kualitas/mutu dari komoditas hortikultura.

Namun, petani harus mewaspadai penyakit kanker batang naga. Berdasarkan hasil survei Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu Tropika) Solok pada tahun 2013 dan 2015, sebagian besar pertanaman buah naga di Provinsi Kepulauan Riau (Batam dan Bintan) hancur terserang kanker batang.

“Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Neoscytalidium dimidiatum, dapat mengancam produksi buah naga di Indonesia karena bisa mematikan tanaman,” kata pria yang disapa Anton ini.

Beberapa wilayah lain yang diserang penyakit kanker batang seperti di Provinsi Sumatera Barat, terutama di Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Kalimantan Timur, Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur.

Penyakit kanker batang dapat menyerang bagian batang maupun buah. Gejala pada batang yang dimulai pada batang muda/sulur, adanya bintik-bintik/bercak-bercak putih seperti tusukan halus dan cekung pada bagian tengah.

Gejala lebih lanjut, bercak-bercak menyatu, berwarna kuning sampai kecokelatan dan membengkak (seperti bisul) meletus, kemudian akan mengeras, berwarna hitam dan mengering. Gejala pada buah, terdapat bintik-bintik/bercak-bercak putih seperti gejala awal pada batang.

“Gejala lanjut pada buah, bercak-bercak menyatu menutupi permukaan buah, sehingga kulit buah menghitam dan kering,” lanjut Anton.

Perkembangan penyakit dipengaruhi oleh faktor cuaca, dan kebersihan kebun dari sisa-sisa tanaman/bagian yang terserang. Curah hujan tinggi, apalagi sisa-sisa tanaman dan bagian yang tidak dimusnahkan sangat mendukung perkembangan penyakit. Oleh sebab itu pengendalian sangat diperlukan, agar penyakit tidak berkembang.

Pengendalian penyakit kanker batang dilakukan secara ramah lingkungan,secara terpadu dengan melakukan monitoring gejala serangan awal, pemeliharaan tanaman secara optimal yakni pemupukan berimbang, pengairan cukup, melakukan sanitasi kebun dari sisa-sisa tanaman dan bagian tanaman yang terserang.

“Kemudian dimusnahkan dengan cara membakar, dan eradikasi selektif tanaman yang terserang ringan dengan melakukan pemotongan bagian tanaman yang terserang, terakhir dimusnahkan dengan cara membakar dan bekas potongan oles dengan Bubur Bordo,” paparnya.

Direktur Perlindungan Hortikultura Sri Wijayanti Yusuf menambahkan, keberhasilan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) harus dilakukan secara terpadu, serentak, dan ramah lingkungan sesuai dengan prinsip Pengamatan Hama Terpadu (PHT).

“Beberapa prinsip PHT yang penting dilakukan yaitu budidaya tanaman sehat, pengamatan agroekosistem secara rutin, serta pelestarian musuh alami. Hal itu akan berguna sehingga petani dapat mengambil keputusan dalam melakukan pengelolaan OPT di lahannya,” pungkasnya. (mh/kp)

Leave A Reply

Your email address will not be published.