Portal Berita Online
Ads Beras Haji

Kisah Sukses Petani Jebolan SD Raih Penghargaan Internasional

0 66

Jakarta, Kabarpangan.id – Setiap pekerjaan yang dilakoni harus telaten, dan jangan mudah menyerah. Jika itu dilakukan, maka akan meraih kesuksesan. Seperti yang dilakukan Ulus Primawan, sukses memberdayakan produk hortikulturanya hingga meraih penghargaan internasional.

Petani asal Kampung Gandok, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat ini sejak kanak-kanak mendalami dunia pertanian. Hingga kini berhasil mempertahankan kualitas hingga produknya menjadi salah satu yang terunggul.

Ulus, yang saat itu masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dirinya sudah mulai belajar bertani bersama orang tuanya. Ia merelakan masa sekolahnya hilang demi membantu keluarganya bercocok tanam di tengah keterbatasan ekonomi.

Ketika itu, dirinya juga menceritakan jika tidak bisa melanjutkan pendidikan ke bangku Sekolah Menengah Pertama. Ia hanya melanjutkan pendidikan ke kursus menjahit.

“Nah awalnya sih kita lulus SD itu maunya ke SMP ya, tapi karena kemampuan orang tua mungkin saat itu Enggak sanggup, jadi kita malah ke kursus menjahit. Setelah itu ah mending bertani saja” kata Ulus via Akun youtube Kementerian Pertanian RI.

Menurut pria yang hanya menamatkan pendidikan formal di bangku Sekolah Dasar (SD) tersebut, ia dahulu kerap membantu orang tuanya dengan menjual beragam sayur hasil panen hingga ke luar kota.

Ads Air Haji

Hingga sampai di tahun 1993, dirinya bisa membantu menjual produk tani dari orang tuanya ke Pasar Induk Kramat Jati di Jakarta Timur. Saat belum ada jalan tol dirinya bersama sang orang tua mengirim sayuran pada petang hari, hingga sampai di lokasi pasar induk tengah malam.

Perjuangannya tidak sia-sia. Produk buncis dari kebun orang tuanya menjadi yang nomor satu di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta. Bahkan saat itu banyak dari para pelanggannya yang menunggu dirinya dan orang tuanya datang membawa buncis dari produk orang tuanya.

“Jadi barang-barang yang orang tua panen kita jualin, kita jualin. Sampai-sampai di tahun 93 sudah sampai ke Pasar Induk Kramat Jati. Nah dari situ karena ya komoditasnya buncis ya dulu itu, buncisnya juga sampai sampai nomor satu lah di kramat jatinya itu. Kita itu berangkat jam enam sore, sampai jam 12 malam yah karena belum ada tol, tapi konsumen udah nunggu di sana,” tuturnya.

alam wawancaranya dengan Kementerian Pertanian, Ulus juga membagikan tips bagi para petani agar bisa menembus pasar, baik tradisional, modern maupun pasar ekspor. Menurutnya kunci utama ada di kualitas. Ketika produk pertanian kita bisa menjaga kualias maka pasar-pasar tersebut akan menantikan produk yang kita jual.

“Gimana sih caranya kita supaya punya produk-produk berkualitas, kita harus mempertahankan kualitas, juga kontinuitas. Karena pasar-pasar modern itu tidak bisa menerima sayuran yang tidak kontinu dan tidak berkualitas seperti rendah residu pestisida,” terangnya

Salah satu yang terpenting menurutnya adalah meminimalisir bahkan menggantinya dengan pupuk organik. Kini sayuran-sayurannya bisa lolos seleksi di pasar internasional, salah satunya Singapura.

Menurut Ulus, pasar di luar negeri cukup ketat terkait kondisi keamanan dari komoditas yang dijual. Sehingga ketika produk yang dijual kedapatan mengandung residu dari kimia/pestisida yang melebihi ambang batas, produk tersebut akan di-blacklist dan diberi pita merah. (mh)

Leave A Reply

Your email address will not be published.