Portal Berita Online
Ads Beras Haji

KKP Genjot Ekspor Budidaya Teripang

0 6

LAMPUNG, KABARPANGAN.ID – Keberadaan populasi teripang di Indonesia maupun di dunia semakin menurun. Ini karena terus dilakukan eksploitasi dan dilakukan penangkapan secara terus menerus tanpa adanya budidaya teripang.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat, setiap tahun sejak 2012 hingga 2019 ekspor teripang trennya mengalami kenaikan.

“Kenaikan ekspor teripang karena penangkapan berasal dari alam,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dalam video daring, Sabtu (19/9).

Untuk itu, kata Slamet, untuk mengatasi penurunan tripang harus melakukan budidaya. Dengan budidaya, jumlah tripang tidak akan mengalami penurunan dan bisa terus memenuhi permintaan ekspor.

“Inilah yang harus kita lakukan kedepannya harus banyak memproduksi teripang-teripang dari hasil budidaya. Kita harapkan ke depan ekspor teripang berasal dari pembudidayaan, dan tantangan para pembudidaya yaitu bagaimana memperbanyak benih-benih ini untuk proses budidaya,” ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa saat ini KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya sangat mendorong sekali pengembangan budidaya teripang di Indonesia untuk dapat ditingkatkan dan dikembangkan.

“Sejauh ini kita mengetahui bahwa ekspor teripang dunia yang terbesar adalah dari Indonesia. Ini luar biasa, kita tahu bahwa Indonesia sebagai negara tropis dan mempunyai perairan yang begitu luas dengan habitatnya yang sangat memenuhi persyaratan untuk tumbuh dan bereproduksi teripang ini sehingga produksi di alam cukup banya,” ungkap Slamet.

Keberhasilan pembenihan yang telah dilakukan Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung membuka peluang berkembangnya budidaya teripang khususnya jenis teripang pasir. Ini menjadi prospek yang luar biasa kedepannya untuk dikembangkan.

“Saya memberikan apresiasi sebesar-besarnya dan juga penghargaan kepada BBPBL Lampung yang telah memproduksi massal pembenihan dan juga telah menemukan teknologinya untuk pembesaran teripang, serta telah melakukan kegiatan terkait dengan pemeliharaan di laut atau dengan cara melakukan restocking pada kawasan sea ranching yang aman dari predator, pencuri dan terlindung dari angin, arus dan gelombang,” tutur Slamet.

Slamet mengungkapkan keberhasilan tersebut merupakan satu terobosan dan langkah yang baik sekali sebagai upaya untuk menyosialisasikan dan sekaligus memberi satu edukasi dan juga harapan kedepannya ke arah industri teripang karena dari teknologinya sudah dikuasai baik sisi produksi benih maupun pembesaran.

Ads Air Haji

“Inilah saya kira sebagai jawaban kenapa ke depan kita harus memperbanyak, harus masuk ke industri teripang ini. Industri teripang bukan hanya di sektor hilirnya saja dalam rangka proses produksinya, tetapi bagaimana menyediakan bibit-bibit yang unggul dan juga memperbanyak teripang-teripang itu dari pembudidayaan yang kita lakukan,” ucap Slamet.

Slamet berharap kedepannya akan banyak hatchery pembenihan teripang yang dapat dilakukan dengan model pusat larva atau larva center.

“Segmentasi usaha diperlukan dengan cara memperdayakan banyak orang untuk ikut terlibat sehingga secara langsung perekonomian mereka juga bertambah,” tambah Slamet.

Kesempatan yang sama, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Keluatan IPB Etty Riani mengungkapkan teripang sangat berpotensi tinggi sebagai komoditas ekspor, bahan baku obat dan kosmetik.

“Potensi teripang untuk dikembangkan tinggi sebagai anti inflamasi, antitoksik, anti bakteri, anti jamur, mencegah kanker, aprodiasiak, anti menopuse, anti aging, anti osteoporitisis serta sebagai anti diabet,” ujar Etty.

Perekayasa inovasi teknologi budidaya teripang dari BBPBL Lampung Dwi Handoko Putro menjelaskan, bahwa di BBPBL Lampung sudah merintis penelitian terkait teripang sehingga hasil-hasil penelitian adalah kunci untuk pengembangan budidaya teripang.

“Untuk pembenihan teripang kita menggunakan metode thermal shock atau kejut suhu yang dilakukan saat bulan purnama. Nah, teknik pembenihannya sudah kita ketahui tinggal bagaimana nantinya mengembangkan untuk memproduksi massal, perlu upaya untuk dapat mencukupi kebutuhan di skala usaha pembesaran,” kata Dwi.

Menurut Dwi, pembudidayaan teripang cukup sederhana, sebenarnya tidak perlu pakan buatan atau pengobatan yang begitu kompleks. Dengan laut yang begitu luasnya dengan model budidaya sea ranching ini dapat dikembangkan teripang di alam sebagai penyeimbang ekosistem. Selain itu, teripang dapat menjadi indikator pencemaran lingkungan.

Pelaku usaha dan peneliti pengolahan teripang Risal Aprianto menuturkan, metode pengelolaan teripang mencakup empat tahapan yaitu penyiangan, perebusan, pengaraman dan pengeringan.

“Metode pengolahan teripang dilakukan akan berbeda-beda tergantung pada jenis teripang yang akan diolah, pengolahan teripang juga dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat lokal dalam mengolah teripang, biasanya metode pengolahan ini dilakukan secara turun temurun oleh keluarga,” tukasnya. (mh/kp)

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.