Portal Berita Online
Ads Beras Haji

Komitmen Kemendag Dongkrak Produktivitas Garam Lokal

0 11

JAKARTA, KABARPANGAN.ID – Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) berkomitmen meningkatkan produktivitas garam dalam negeri, baik secara kualitas maupun kualitas. Selain itu, guna memenuhi kebutuhan nasional dan juga mengurangi impor.

Garam merupakan salah satu komoditas yang dibutuhkan masyarakat di berbagai sektor, mulai dari rumah tangga untuk konsumsi, hingga industri sebagai bahan baku, antara lain dalam produksi pipa PVC, sabun, kosmetik, tekstil, dan manufaktur.

Komitmen tersebut diungkapkan Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto saat meninjau persiapan panen garam tambak garam PT Timor Livestock di Nunkurus, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Turut mendampingi Mendag yaitu Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat. Pada kunjungan tersebut, Mendag Agus sangat mengapresiasi produktivitas lahan garam yang relative cukup baik dibandingkan dengan rata-rata produksi garam dalam negeri.

“Saat ini garam nasional masih menghadapi beragam tantangan, baik dari sisi keterbatasan produksi maupun kualitas hasil akhir yang relatif rendah. Namun saya melihat di sini potensi peningkatan produksi garam dengan kualitas di atas rata-rata. Jika kualitas ini dipertahankan, maka produksi garam NTT dapat mendorong penurunan impor garam untuk kebutuhan industri, maupununtuk diekspor,” ujar Agus dalam keterangannya, Sabtu (25/7).

Kemendag mencatat, produktivitas rata-rata lahan garam di Nunkurus adalah 100 ton/hektar (ha) untuk setiap siklus panen (sekitar 40-45 hari), lebih tinggi dari produktivitas rata-rata lahan garam lainnya yang berkisar 6070 ton/ha. Kualitas garam yang dihasilkan juga termasuk cukup baik dengan NaCl minimal 97 persen.

Ads Air Haji

Kualitas garam dalam negeri rata-rata memiliki kandungan NaCl di bawah 95 persen sehingga menyebabkan garam dalam negeri tidak dapat diserap industri pengguna garam.

Harga jual garam dari petambak di Nunkurus berkisar antara Rp 600–1.000 per kg, lebih tinggi dari rata-rata harga garam di tingkat petambak yang di bawah Rp 500 per kg. Hasil keuntungan produksi kemudian dinikmati pihak masyarakat pemilik lahan, gereja, dan pemerintah daerah dengan mekanisme bagi hasil. Masyarakat pemilik lahan juga mendapat 10 persen dari bagi hasil tersebut.

“Kemendag terus mendorong para petani garam agar memanfaatkan Sistem Resi Gudang (SRG), termasuk para petani di Nunkurus, NTT, karena nantinya dibentuk SRG di sini. Melalui SRG, diharapkan harga garam akan relatif stabil karena petambak bisa menyimpan garam di gudang dan menjualnya pada saat yang tepat, serta memperoleh dukungan pendanaan berupa pinjaman,” katanya.

Dia mengungkapkan, salah satu tantangan kondisi pergaraman dalam negeri yang paling krusial ialah tingkat produksi yang belum mencukupi kebutuhan nasional. Kebutuhan garam nasional pada 2020 diperkirakan sebesar 4,4 juta ton, terdiri atas kebutuhan industri sebesar 3,74 juta ton, rumah tangga 321 ribu ton, dan lainnya sebesar 398 ribu ton.

Sedangkan produksi garam tahun 2020 diperkirakan sebesar 2,5 juta ton sehingga belum mampu mencukupi kebutuhan garam di dalam negeri.

“Rendahnya produktivitas garam di dalam negeri disebabkan produksi garam yang rentan terganggu cuaca, lahan pergaraman yang tidak luas dan tidak terintegrasi, serta sistem pemanenan garam yang sederhana. Selain membuat jumlah produksi yang rendah, hal ini juga berdampak pada kualitas garam yang tidak seragam,” kata Agus.

Karenanya, Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan garam nasional, terutama kebutuhan garam industri yang masih dipenuhi dari impor. Lahan garam di Indonesia juga bukan merupakan hamparan, melainkan petakan-petakan yang diusahakan secara tradisional. Inilah ke depan menjadi PR pemerintah bagaimana produksi garam bisa melimpah dan tidak lagi mengandalkan impor lagi. (mh/kp)

Leave A Reply

Your email address will not be published.