Portal Berita Online
Ads Beras Haji

Kotamobagu Kembangkan Budidaya Lele Bioflok

0 4

KOTAMOBAGU, KABARPANGAN.ID – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) menyerahkan bantuan unit percontohan penyuluhan budidaya ikan lele sistem bioflok di Kelurahan Sinindian, Kecamatan Kotamobagu Timur, Kota Kotamobagu, Provinsi Sulawesi Utara, Kamis (3/9). Bantuan tersebut untuk memperkuat budidaya ikan dalam negeri.

Melalui percontohan penyuluhan ini merupakan upaya diseminasi teknologi kelautan dan perikanan serta penerapan metode penyuluhan partisipatif kepada pelaku utama.

Kepala BRSDM Sjarief Widjaja menyarankan masyarakat untuk meniru, memodifikasi, dan membuat inovasi kolam bioflok dengan bahan dan peralatan yang ada. Misalkan, kata dia menggunakan bahan seperti bambu yang banyak tersedia di alam dapat dimanfaatkan untuk membangun instalasi bioflok sederhana.

“Pada dasarnya bantuan ini adalah ide awal untuk membuat kolam bioflok sejenis dengan bahan yang ada di sekitar kita,” ujarnya.

Selanjutnya, di samping kelompok pembesaran lele, Sjarief juga menginginkan dibentuknya kelompok pembenihan untuk menyiapkan benih dan indukan yang dibutuhkan dalam usaha budidaya. Pasalnya, berkaca dari pengalaman di lokasi lain, pembudidaya pembesaran ikan lele sistem bioflok kesulitan mendapatkan benih setelah panen pertama atau kedua.

Selain itu, mengingat lele merupakan ikan yang memiliki daya tahan tinggi, dapat hidup di segala cuaca dan model media air, dan memakan segala, Sjarief ingin agar BP3 Bitung juga mencarikan formulasi pakan yang lebih sederhana.

“Tidak perlu pakan pabrikan karena kalau lele pakai pakan pabrikan pasti keuntungannya akan kecil sekali bahkan cenderung rugi. Mungkin bisa disiapkan formulasi lain dengan menggunakan ikan rucah, cacing sutra, atau magot,” jelas Sjarief.

Setelah formulasi ditemukan, Sjarief menyarankan agar dibentuk kelompok masyarakat produsen pakan ikan.

Ads Air Haji

“Ini bukan sekadar usaha, melainkan sinergi dan kerjasama berbagai kelompok. Jika ada kelompok pembudidaya, kelompok benih, kelompok pakan, kelompok probiotik, hingga kelompok pengolah pasca panen, maka masyarakat akan saling mengisi dalam kegiatan budidaya yang terintegrasi,” ucapnya.

Sinergi dalam kegiatan budidaya ini dipercaya akan membentuk circular economy yang pada akhirnya dapat menciptakan swasembada di daerah.

Senada, Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP) Lilly Aprilya Pregiwati menginginkan agar terbentuk sinergi yang baik antara penyuluh perikanan dengan kelompok penerima bantuan.

Lilly pun menjelaskan empat hal mendasar dalam pemilihan percontohan penyuluhan bioflok kali ini.

Pertama, teknologi bioflok yang diusung merupakan teknologi yang sudah direkomendasikan dan berhasil dikembangkan di beberapa daerah lain.

Kedua, pengembangan teknologi bioflok cukup murah dan terjangkau. Pembuatan empat kolam yang diserahkan kepada Pokdakan Suka Maju misalnya memakan biaya Rp 55 juta yang dinilai tidak terlalu mahal untuk satu kelompok masyarakat.

Ketiga, budidaya dengan sistem bioflok merupakan kegiatan budidaya yang ramah lingkungan.

“Terakhir, melalui budidaya sistem bioflok diharapkan muncul inovasi integrasi usaha mulai dari pembenihan hingga penanganan pasca-panen,” pungkasnya. (mh/kp)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.