Portal Berita Online

Momentum Tepat Diversifikasi Pangan Saat Pandemi Covid-19

0 14

JAKARTA, KABARPANGAN.ID – Diversifikasi pangan telah digaungkan sejak beberapa tahun silam. Kini, merupakan momentum yang pas di musim Covid-19 untuk mempercepat diversifikasi pangan selain beras, yakni ubi kayu, kentang, sagu, tales, dan jagung.

Hal tersebut seperti disampaikan oleh Ketua Departemen Ilmu Ekonomi Institut Pertanian Bogor (IPB) Sahara saat diskusi yang digagas Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) bertajuk ”Diversifikasi Pangan Kokohkan Ketahanan Pangan Nasional”, di Jakarta, Selasa (8/9).

“Sekarang ini, mind set harus diubah. Jadi, beras itu bukan satu-satunya sumber karbohidrat, ada makanan alternatif yang setara dengan beras, seperti ubi kayu, kentang, sagu, tales, dan jagung,” ujarnya.

Selama ini, kata dia, pemerintah masih terlalu fokus pada pengembangan jenis beras. Padahal, Indonesia memiliki ragam jenis pangan yang sangat berlimpah. Langkah itu, menurut dia, dapat menghambat upaya diversifikasi pangan lokal.

Dosen IPB ini menyebutkan, Indonesia memiliki 77 jenis pangan sumber karbohidrat, 75 jenis pangan sumber protein, 110 jenis rempah dan bumbu, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, 26 jenis kacang-kacangan, dan 40 jenis bahan minuman.

Namun, lanjut dia, konsumsi beras per kapita masih terbilang tinggi. Kondisi ini akan menghambat dalam mendorong diversifikasi pangan. Selain itu, produksi pangan lokal pangan masih rendah, dan juga teknologi pengolahan pangan lokal yang masih terbatas.

Kesempatan yang sama, Sekretaris Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Riwantoro menyampaikan, dalam roadmap konsumsi beras nasional ditargetkan pada tahun 2024 menjadi 85,0 kilogram per kapita per tahun pada. Posisi itu turun dari 2019 yang diangka 94,9 per kg per kapita per tahun.

Dia menjelaskan, roadmap tersebut sebagai peta jalan menyukseskan program diversifikasi pangan sehingga nantinya masyarakat Indonesia tidak hanya bergantung dari beras, namun dari tanaman pangan lainnya.

“Dibuatnya roadmap ini agar menurunkan ketergantungan konsumsi beras. Kita sediakan pangan lokal sumber karbohidrat nonberas,” ujarnya.

Sementara itu petani milenial asal Cianjur, Jawa Barat, sekaligus Duta Petani Milenial, Sandi Octa Susila mengatakan, memberikan pemahanan kepada petani milenial dalam memperkuat ketahanan pangan, yaitu intensifikasi, ekstensifikasi, dan diversifkasi pangan.

“Kami memberikan pemahaman terhadap petani-petani milenial langkah-langkah yang harus dikerjakan. Bahwa ini sudah jelas, lahan kita, jangan biarkan waktu untuk tidak menanam,” katanya.

Pria 26 tahun ini juga mendukung program YESS yang diinisiasi Kementan. Program YESS adalah salah satu sinergi program Kementan dan IFAD yang dirancang untuk mengembangkan generasi muda dan regenerasi petani di pedesaaan untuk menjadi wirausahawa muda dan tenaga kerja professional di bidang pertanian.

“Kami petani milenial mensupport program YESS. Saat ini diterapkan di empat provinsi, yakni Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Jawa Timur,” pungkasnya. (mh/kp)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.