Portal Berita Online

Pengganti Nasi, Produksi Ubi Kayu di Gunung Kidul Digenjot

0 9

GUNUNGKIDUL, KABARPANGAN.ID – Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, dikenal sebagai daerah penghasil ubi kayu. Tahun 2020, produksi komoditas holtikultura ini melimpah ruah.

Hal ini sejalan dengan program Kementerian Pertanian (Kementan) di mana, terdapat enam komoditas yang diarahkan mengganti nasi, seperti singkong, pisang, sagu, kentang, talas dan jagung.

Dari safari ubinan panen ubi kayu oleh jajaran Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul yang dikomandoi langung Bambang Wisnu Broto di beberapa kecamatan, hasil panen petani terus meningkat.

Misalnya, ubinan panen ubi kayu di poktan Ngudi Rejeki, Dusun Jetis Kalurahan Karangmojo, Kapanewon Karangmojo, 16,3 kilogram (kg) atau setara 26,2 ton per ha.

Ketua Poktan Ngudi Rejeki, Zon Kelvin menyampaikan, luas lahan di Jetis meliputi sawah tadah hujan 6 ha dan lahan kering 30 ha.

“Kami berharap poktan bisa dapat bantuan alat dan mesin untuk pertanian dari dinas,” ujarnya dalam keterangannya, Minggu (23/8).

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Bambang Wisnu Broto menjelaskan, ubinan panen ubi kayu di poktan Ngudi rejeki, Jetis, Karangmojo hasilnya sangat menggembirakan. Rata rata produksi yang dihasilkan meningkat dibanding tahun lalu.

Seperti halnya di poktan Ngudi Tani, Pendem, sumberejo, Semin produktivitas ubi kayu Klentheng mencapai 27,6 ton per ha dan ubi kayu Mandarin per Lampung mencapai 24,8 ton per ha.

Selanjutnya di poktan Sedyo Maju dusun Nangsri Lor, Candirejo Semanu panen ubi kayu varitas Gajah dengan provitas didapat 37 ton per ha.

Kemudian di poktan Ngudi Makmur, Keruk III, Banjarejo, Tanjungsari panen ubi kayu varitas lokal Gatotkaca dengan provitas 43,6 tonper ha, ubi kayu Malang 6 dengan provitas 28,1 ton per ha, ubi kayu Dworowati provitas 38,4 ton per ha.

Rata-rata hasil ubinan di beberapa kecamatan di atas 20 tonper ha umbi basah, dirinya optimis dengan luas panen sekitar 456.816 ha akan dicapai produksi ubi kayu Gunungkidul menyentuh 900.000 ton ubi kayu basah, bahkan mungkin bisa mencapai 1 juta ton seperti di tahun 2016.

“Dengan harga di pasaran mencapai Rp 1.000 per kg umbi basah maka sumbangan produksi ubi kayu pada PDRB Gunungkidul sangat berarti,” ucapnya.

Terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi menyambut baik langkah yang dilakukan Kabupaten Gunungkidul.

“Ubikayu adalah salah satu pangan lokal yang digalakkan Pak Menteri Syahrul Yasin Limpo sebagai pengganti nasi,” ujarnya.

Suwandi menyarankan, yang perlu dikembangkan lagi adalah memberikan nilai tambah bagi produk ubi kayu.

“Singkong ini bisa diolah menjadi macam-macam bentuk mulai dari kripik, tepung tapioka maupun mocaf, ini peluangnya untuk industri sangat luas,” pungkasnya. (mh/kp)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.