Portal Berita Online
Ads Beras Haji

PERAGI Dukung Sukseskan Program Food Estate di Kalteng

0 23

JAKARTA, KABARPANGAN.ID – Untuk menyukseskan program Food Estate atau lumbung pangan di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Kementerian Pertanian (Kementan) terbuka melibatkan semua pihak. Salah satunya yang telah menyatakan kesiapan menyukseskan program tersebut adalah Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI). Program ini ditargetkan menempati lahan seluas 30.000 hektar (ha) pada tahun ini.

Program ini disampaikan dalam diskusi bertemakan Food Estate Perkuat Cadangan Pangan Nasional yang diselenggarakan Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) melalui aplikasi Zoom, Minggu (11/10). Kegiatan ini menghadirkan narasumber Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Sarwo Edhy, Direktur Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI) Institute, Dr Dwi Asmono, dan Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir.

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) Sarwo Edhy mengatakan, terdapat sejumlah kunci untuk meningkatkan produksi pertanian dalam program tersebut, di antaranya ketersediaan air, benih berkualitas, dan pupuk berkualitas.

“Kemudian kita melakukan kegiatan pompanisasi dan pipanisasi, serta pengadaan alsintan, dan memfasilitasi petani agar bisa membawa hasil panennya untuk dijual,” ujarnya.

Lanjut dia, Kementan juga berupaya mengajak petani untuk beralih menggunakan teknologi terkini. Sehingga dengan demikian, produktivitas pertanian bisa naik berlipat-lipat dan bisa memperkuat ketahanan pangan nasional, terlebih di musim pandemi Covid-19.

“Kami sudah siapkan alsintan traktor roda dua dan empat untuk mengolah lahan. Kegiatan penanaman telah disiapkan mesin transplanter. Kemudian ada combine harvester untuk membantu petani saat panen, termasuk memberi bantuan Rice Milling Unit (RMU) dan dryer,” paparnya.

Kesempatan yang sama, Direktur PERAGI Institute Dr Dwi Asmono menambahkan, dalam pengembangan Food Estate harus mulai menyiapkan bibit, pemasaran, pabrik harus dibangun, semua harus dirancang dengan benar. Jika berhasil, hal ini akan menjadi pengungkit untuk yang lain.

Ads Air Haji

“Dari sisi on farm, menjadi faktor penentu produksi adalah dengan melakukan pemilihan bibit unggul, pengelolaan tanah yang baik, pemupukan yang tepat, pengendalian hama dan penyakit, serta pengairan yang baik,” katanya.

Selain itu, kata dia, aspek nutrisi perlu diperhatikan dengan kondisi lahan Food Estate. Dwi Asmono menyebutkan penggunaan magnesium dan kalsium (dolomit) untuk meningkatkan pH lahan pasang surut di areal Food Estate.

“Yang harus diperhatikan, kandungan nutrisi dan magnesium di Kalimantan ini relatif rendah. Memang persoalan ini terlihat sederhana tetapi akan berdampak kepada produktivitas tanaman,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir berpandangan program Food Estate merupakan suatu keniscayaan yang harus dibangun dari sekarang. Apalagi, setiap tahun jumlah penduduk Indonesia meningkat 1,3 persen.

“Tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi Kementan dalam menyediakan pangan bagi seluruh masyarakat Indonesia,” katanya.

Oleh karena itu, dia mendorong peran BUMN dan BUMD dalam mendukung kelancaran program Food Estate agar berjalan dengan baik. Hal ini dikarenakan program Food Estate memerlukan kelengkapan sarana dan prasarana yang baik.

“Kelengkapan on farm harus tersedia mulai dari benih, pupuk, pestisida, traktor roda empat. Selain itu dukungan dari teknologi modern sudah harus diterapkan,” tukasnya.

Adapun potensi lahan pengembangan Food Estate di Kalteng seluas 164.598 ha. Terdiri dari lahan fungsional atau intensifikasi seluas 85.456 ha dan lahan sisa fungsional atau ekstensifikasi 79.142 ha. Sedangkan, lahan akan digarap pada 2020 adalah seluas 30.000 ha, dan tersebar di Kabupaten Kapuas seluas 20.000 ha dan Kabupaten Pulang Pisau 10.000 ha. (mh/kp)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.