Portal Berita Online
Ads Beras Haji

Perikanan Budidaya Jadi Penopang Ketahanan Pangan

0 28

Jakarta, Kabarpangan.id – Perikanan Budidaya diyakini mampu menghasilkan perputaran ekonomi yang luar biasa, baik untuk kebutuhan pangan maupun nilai ekonominya serta menciptakan peluang lapangan kerja. Selain itu juga, perikanan budidaya adalah untuk kelestarian, kesinambungan generasi berikut.

“Perikanan budidaya adalah masa depan sektor perikanan kita. Maka dari itu harus kita kembangkan. Mulai dari pembenihan hingga pembesaran, serta pakan. Dan saya berharap pakan ini bisa dikembangkan antara pemerintah daerah dengan perguruan tinggi untuk mendapatkan pakan yang lebih baik,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP), Sakti Wahyu Trenggono saat melakukan Kunjungan kerja Menteri Kelautan dan Perikanan ke Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Senin (18/1/2021).

Untuk itu, dia pastikan akan intens untuk selalu bekerjasama dengan dinas dan juga kepala daerah, tidak hanya perbaiki pesisir pantai saja, tapi kita juga harus perbaiki perikanan darat atau perikanan air tawar. Karena perikanan darat jika dikembangkan secara maksimal punya nilai ekonomi yang tinggi bagi masyarakat.

“Bukan hanya di Sleman Yogyakarta saja, tapi merata di seluruh daerah di Indonesia untuk kita kembangkan perikanan budidaya,” ujar Menteri Trenggono.

Trenggono menegaskan tagline KKP 2021 adalah menggerakkan perikanan budidaya, diyakini dapat menjadi penopang ketahanan pangan dan pembangunan ekonomi daerah di tengah Pandemi Covid- 19.

“Kita tahu pandemi Covid-19 menerjang di semua sektor. Sementara, produksi perikanan budidaya sangat dibutuhkan baik untuk ketahanan pangan maupun untuk pembangunan ekonomi daerah serta nasional,” kata Trenggono.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto, dalam keterangannya di Jakarta sangat apresiasi dengan data sangat sementara capaian kinerja tahun 2020 dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Yogyakarta bahwa untuk program peningkatkan produksi perikanan budidaya dengan target terbesar yakni 89 ribu ton dan mampu teralisasi yakni sekitar 93 ribu ton

“Saya sangat mengapresiasi meskipun pandemi covid 19, DI Yogyakarta ini tetap berkomitmen membangun sub sektor perikanan budidaya untuk dapat berkontribusi besar dalam perekonomian nasional,” tegas Slamet.

Dan capaian produksi perikanan budidaya DI Yogyakarta terbesar dari produksi ikan ikan air tawar, tertinggi ikan lele kemudian disusul nila dan gurami. Kabupaten dengan data produksi perikanan budidaya terbesar adalah Sleman.

Ads Air Haji

Slamet menambahkan beberapa upaya strategis guna menggenjot produktivitas dan nilai tambah ikan air tawar di Indonesia antara lain yaitu pertama, pengembangan sistem perbenihan yang fokus pada produksi varian komoditas unggul yang potensial dikembangkan dan menjamin sistem logistik benihnya secara efisien.

Kedua, pengembangan sistem produksi yang fokus pada penciptaan efisiensi produksi, dan produktivitas budidaya. Upaya ini meliputi pengembangan inovasi teknologi yang aplikatif, efisien dan adaptif, pengembangan pakan mandiri yang efisien, dan penerapan sertifikasi cara budidaya ikan yang baik.

Ketiga, pengembangan sistem kesehatan ikan dan lingkungan yang fokus pada upaya pencegahan dan penanggulangan hama penyakit serta pengelolaan lingkungan.

Kempat, penguatan kapasitas SDM para pelaku dan kelembagaan di sentral sentral produksi. Dan kelima, mendorong pengembangan sistem bisnis terintegrasi (integrated aquaculture business) di sentral produksi untuk menjamin efisiensi dan market.

Sementara itu, Ketua Kelompok Budidaya Lele Kolam Bundar Omah Lele Catfish Farm Bantul, Tri Wibowo, selama usaha budidaya lele ini, kelompok kami mandiri dalam usaha budidaya lele, tidak ada bantuan dari pemerintah. Namun ke depan kami berharap ada bantuan mesin pakan pelet extruder.

“Selama ini mandiri tapi kami berharap ada bantuan untuk mesin pelet. Karena kita tahu budidaya lele cost tertinggi di pakan. Kalau ada mesin pelet akan sangat membantu kami, karena bisa memproduksi pakan sendiri, sehingga cost pakannya bisa ditekan,” harap Tri.

Karena menurutnya, buddidaya lele kolam bundar sangat menguntungkan, selain serangan penyakit mudah dikontrol, padat tebar juga bisa tinggi yakni 500-600 ekor / m3, sedangkan konvensional hanya 100-200 ekor / m3, sehingga jauh lebih enak dan praktis dengan kolam bundar, hasilnya juga lebih besar.

“Selama ini hasilnya sangat menguntungkan, tapi kalau kita bisa produksi pakan mandiri, pasti keuntungannya bisa lebih bagus lagi,” ujar Tri.

Adapun untuk hasilnya sendiri masih dijual sekitar wilayah Yogya, paling jauh ke Magelang. Mengingat, Kebutuhan Yogya sendiri masih banyak, sekarang saja baru tercukupi sekitar 60 persen nya saja.

“Prospek pengembangan budidaya ikan lele sangat menarik. Karena hasilnya memuaskan,” tukasnya. (mh)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.