Portal Berita Online
Ads Beras Haji

Permintaan Tinggi, Kementan Ajak Masyarakat Budidaya Holtikultura

0 8

JAKARTA, KABARPANGAN.ID – Di tengah pandemi Covid-19 terjadi peningkatan permintaan buah-buahan, terutama yang mengandung vitamin C, serat, antiosidan dan sederet kandungan lainnya yang menguatkan sistem kekebalan tubuh.

Direktur Buah dan Florikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Liferdi Lukman mengatakan, bahwa imbas kondisi tersebut memicu tingginya permintaan masyarakat saat pandemi. Bahkan, menjadi ‘tulang punggung pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2020.

“Di saat pandemi, seluruh sektor mengalami minus. Pertumbuhan ekonomi kita minus 5,32 persen namun sektor pertanian mampu tumbuh 16,24 persen,” ujarnya dalam video daring, Minggu (9/8).

Dirinya mengungkapkan, budidaya tanaman buah dalam pot (tambulapot) memiliki beberapa benefit secara bisnis.

Alasannya, keuntungan lebih besar, tingkat keberhasilan tinggi, dapat berbuah di luar musim, mudah dipindah, dan dapat dikembangkan di berbagai lahan.

Liferdi pun mengajak masyarakat untuk membudidayakan buah-buahan di pekarangan rumahnya. Tren konsumsi kian meningkat seiring tingginya kesadaran masyarakat menjaga kesehatan. Saat ini baru 50 persen masyarakat yang memenuhi kecukupan anjuran.

Ads Air Haji

“Pada dasarnya semua buah-buahan layak tabulampot. Meskipun demikian saya sarankan kita harus prospektif. Tanamlah buah-buahan yang unggul, eksotik, komersial dan produktivitasnya tinggi,” ucapnya.

Tanaman buah berprospek tinggi secara ekonomi tersebut antara lain golden melon, kelengkeng kateki, jambu air citra, srikaya rovi, durian bawor, jambu kristal dan alpukat cipedak.

Mantan Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat (BPTP Jabar) ini lantas membuat simulasi keuntungan yang diraup dengan budi daya kelengkeng kateki secara tabulampot.

Dirinya menjelaskan jika sebuah desa terdiri dari 3 ribu kepala keluarga (KK) dan setiap KK menanam 20 pohon kelengkeng, maka tertanam 60 ribu pohon. Apabila produktivitas optimal tanaman 20 kilogram (kg) per pohon per tahun, maka diperkirakan dapat memproduksi 1.200 ton per tahun.

“Sehingga jika setiap KK memproduksi 20 kilogram per tahun dengan harga Rp 30.000 perkilogram, maka desa itu mendapatkan Rp 36 miliar setiap tahunnya dari budi daya kelengkeng kateki,” urainya.

“Kalau ongkos produksi selama dua tahun sebesar Rp 18 miliar atau untuk benih, prasarana dan pemeliharaan sebesar Rp 300 ribu per pohon, maka kentungan yang didapat pada tahun pertama panen mencapai Rp 18 miliar. Ini sangat menjanjikan,” pungkasnya. (mh/kp)

Leave A Reply

Your email address will not be published.