Portal Berita Online
Ads Beras Haji

Petani Grobogan Manfaatkan Refugia Amankan Stok Pangan

0 8

JAKARTA, KABARPANGAN.ID – Deretan bunga kertas tumbuh asri dan cantik, menghiasi kawasan pertanian yang saat ini ditanami kacang hijau (Vigna radiate L) milik Sholikun (40), petani di Desa Rajek Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah. Bunga-bunga itu memiliki banyak manfaat, yakni penyokong sawah pertanian yang produktif dan sehat.

Dua tahun terakhir, Sholikun menanam serta merawat bunga kertas (Zinnia elegans), bunga matahari (Helianthus annus) dan bunga kenikir (Cosmos caudatus) ditepi hamparan sawah. Tanaman itu dipelihara baik, tidak sekadar demi keindahan areal persawahan. Namun, lebih dari itu, yakni membangun sebuah ekosistem pertanian hayati yang sehat.

Hama, selama ini dianggap musuh bagi para petani karena sangat merugikan merusak tanaman pertanian hingga menurunkan produktivitas lahan. Terlebih tanaman kacang hijau, tingkat serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) cukup tinggi dari awal tanam hingga panen. Beragam cara dilakukan untuk mengendalikan hama. Petani lebih banyak memilih cara instan menggunakan pestisida atau insektisida.

Bagi Sholikun, keberadaan refugia di lahan sawahnya membantu mengurangi pemakaian insektisida kimia sintetik pada tanaman kacang hijaunya. Pada musim kemarau ini, Ia menanam kacang hijau varietas VIMA-1 seluas 6.073 m2. Begitu panen padi selesai, Ia kemudian melakukan tanam kacang hijau dengan sistem sebar tanpa olah tanah.

“Sistem tanam Sebar, dilakukan dua hari sebelum padi dipanen. Tujuanya agar biji berkecambah dengan baik karena masih ada naungan tanaman padi yang belum dipanen. Kebutuhan benih 50-0 kg/ha untuk sistem sebar, tujuannya menghemat biaya tanam dibandingkan sistem tugal.

“Memang cara ini lebih banyak kebutuhan benihnya, tetapi biaya penanaman lebih ekonomis karena tidak banyak membutuhkan tenaga kerja,” ujar Solikun.

Sholikun mengaku dalam melalukan pemeliharaan, ia memadukan pengendalian hama hayati dan kimiawi. Untuk agensia hayati, Solikun menanam refugia di sekitar pematang tanaman kacang hijau. Sedangkan pengendalian secara kimiawi, menggunakan pestisida pada umur 0-30 Hari Setelah Tanam (HST), umur 30 HST atau menjelang berbunga, intensitas penyemprotan dengan volume tinggi dengan interval 2-3 hari pada saat berbunga untuk mengendalikan kembang kempel yang disebabkan oleh serangan ulat penggerek polong (Maruca testulalis) hingga umur 45 HST atau bunga sudah menjadi polong muda. Pengendalian ulat tetap dilakukan hingga menjelang panen 58 HST dengan interval 5 – 7 hari.

Aplikasi tersebut, lanjut Sholikun berkurang signifikan setelah dirinya rutin menanam refugia di setiap musim tanam. Jika sebelum tanam refugia dirinya bisa menyemprot pestisida 15 kali, namun sekarang bisa menghemat 10-12 kali. Titik kritis pada pengendalian OPT kacang hijau pada umur 33-45 HST, bisa 2-3 hari sekali.

Ads Air Haji

Melihat biaya pengeluaran untuk pengendalian OPT pada budidaya kacang hijau yang cukup besar, Sholikun mengajak petani lain untuk menanam refugia di pematang sawah agar ekosistem terjaga dan bermanfaat bagi petani. OPT yang paling banyak menyerang tanaman kacang hijau saat ini adalah ulat grayak (Spodoptera Litura), lalat kacang (Ophiomyia phaseoli), tikus, Lalat pengorok daun (Liriomyza sp.) dan lain sebagainya.

“Dengan refugia, hama-hama kacang hijau menjadi lebih tertarik untuk berkembang biak di daun/bunga dari tanaman refugia. Bisa kita lihat, tanaman kacang relatif aman/kerusakan sedikit dan tanaman refugia justru banyak kerusakan. Inilah bukti refugia sangat bermanfaat mengurangi intensitas serangan OPT kacang hijau,” jelas Solikun.

Senada apa yang disampaikan oleh Sholikun, Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Godong, Bambang Sunarto menuturkan refugia merupakan jenis tanaman berbunga sebagai tempat hidup berbagai serangga yang jadi musuh alami hama tanaman. Manfaat tanaman refugia bisa sebagai pengendali atau musuh alami dari hama.

“Jika dengan cara disemprot pestisida, hama memang bisa kabur, tetapi masih bisa meninggalkan telur. Kalau dengan cara menanam bunga, telur itu tidak sampai menetas karena sudah diisap musuh alami yang berkembang biak pada bunga refugia ini. Adanya tanaman tersebut dalam agroekosistem padi diharapkan bisa meningkatkan keberagaman serangga musuh hama di lingkungan tersebut,” terang Bambang.

“Saya mengajak petani-petani lain untuk mengembangkan budidaya tanaman sehat, salah satunya pengembangan refugia. Kemampuan ekosistem pengendalian hama secara alami akan terjadi dengan baik dan seimbang melalui pengoptimalan manfaat sumber daya yang ada. Selain itu refugia juga membuat lahan semakin cantik dan berpotensi menjadi sarana agrowisata,” tutur Bambang.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan, sejak awal dengan adanya Kostratani, pertanian lebih maju mandiri bahkan dengan pengolahan menggunakan tehnik yang lebih modern.

“Pertanian harus menjadi kekuatan bangsa ini dengan menggunakan teknologi yang lebih baik, memanfaatkan sains dan riset yang lebih kuat sehingga bisa menghadirkan kemampuan-kemampuan kita,” tegas Mentan Syahrul

Sejalan dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedy Nursyamsi, mengatakan agar pertanian tidak boleh berhenti di tengah pandemi Covid-19 ini.

“Seluruh petani dan pelaku utama pertanian agar selalu melakukan inovasi teknologi pertanian dalam rangka meningkatkan produktivitas pertanian melalui penggunaan benih unggul bermutu, pemupukan berimbang spesifik lokasi, pengendalian OPT dan penanganan panen dan pasca panen yang baik dan tepat,” pungkasnya. (mh/kp)

Leave A Reply

Your email address will not be published.