Portal Berita Online
Ads Beras Haji

Peternak Ayam Petelur Salahkan Pembatasan Sosial

0 65

Jakarta, Kabarpangan.id – Peternak ayam petelur menyebut anjloknya harga telur ayam di tingkat peternak lantaran adanya kebijakan pembatasan kegiatan di masyarakat. Dampaknya, serapan telur di wilayah Jabodetabek dan Bandung turun.

“Yang harus diluruskan terkait anjloknya harga telur ayam ialah akibatnya turunnya serapan di daerah Jabodetabek dan Bandung. Itu pemicunya,” kata Ketua Umum Asosiasi Peternak Layer Nasional, Ki Musbar Mesdi, Kamis (28/1/2021).

Selama ini Jabodetabek dan Bandung memang daerah penyumbang penjualan telur tertinggi di Indonesia. Porsinya mencapai 60 persen dari produksi telur nasional.

“Kenapa bisa sampai 60 persen. Karena di kedua wilayah itu banyak aktivitas sosial dan ekonomi otomatis konsumsi akan telur akan lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya,” jelasnya.

Ads Air Haji

Adapun faktor penyebab turunnya serapan telur di pasar Jabodetabek dan Bandung tak lepas dari berbagai pemberlakuan kebijakan pembatasan sosial yang dilakukan secara estafet selama pandemi Covid-19 berlangsung. Sehingga membuat pergerakan konsumen menjadi terbatas dan kemampuan daya beli masyarakat tak kunjung pulih.

“Seperti sekarang nih, ada PPKM di perpanjang mulai 26 Januari hingga 8 Februari, setelah sebelumnya PSBB. Ini otomatis ibu-ibu jadi terbatas ke pasar dan membuat daya beli juga terus tertekan,” terangnya.

Dia mencatat saat ini harga telur ayam di tingkat peternak secara nasional turun drastis menjadi Rp 16.000-Rp 17.000 per kilogram.

Harga tersebut jauh di bawah harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan sebesar Rp 19.000- Rp 21.000 per kilogram dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 7 Tahun 2020 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen. (jj)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.