Portal Berita Online
Ads Beras Haji

Potensi Bioteknologi Pertanian Wujudkan Ketahanan Pangan di Indonesia

0 34

Jakarta, kabarpangan.id – Versi Food Sustainability Indeks 2020, Indonesia berada di urutan 21 negara Adi Daya Pertanian dan Ketahanan Pangan. Sementara Etiopia berada ke-12. Ini menandakan Indonesia tertinggal jauh dengan negara Afrika yang sudah menerapkan teknologi.

Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir mengatakan, bahwa petani Indonesia saat ini berharap masuknya bioteknologi ke Indonesia agar kesejahteraan petani meningkat.

“Petani Indonesia berharap seperti petani di negara-negara lain yang sudah terlebih dahulu menerapkan teknologi lebih awal yang di fasilitasi negaranya,” ujarnya webinar bertajuk ‘Potensi Bioteknologi Pertanian dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan di Indonesia’, padaSenin (21/12).

Direktur IndoBIC Prof Dr Bambang Purwantara menjelaskan, berdasarkan laporan dari ISAAA, di tahun 2019, sudah ada 71 negara yang telah mengadopsi tanaman biotek sejak tahun 1996.

“91 persen dari tanaman tersebut diproduksi oleh lima negara mega bioteknologi yaitu Amerika Serikat (AS), Brazil, Argentina, Kanada dan India. 190,4 juta hektar lahan yang sudah ditanami tanaman biotek dengan 5 tanaman biotek utama yaitu jagung, kedelai, kapas, kanola dan alfalfa,” terang dia.

Sementara itu, Direktur Southeast Asian Regional Center for Tropical Biology (Seameo Biotrop) Dr. Irdika Mansur menyampaikan, bahwa penelitian dan pengembangan bioteknologi tanaman di Biotrop meliputi: rekayasa genetika untuk mendapatkan bibit unggul, identifikasi dan kloning gen ketahanan terhadap hama dan penyakit; dan kultur jaringan tanaman untuk penyediaan bibit unggul.

Ads Air Haji

Lebih lanjut ia mengungkapkan dalam penelitian rekayasa genetika, Biotrop telah berhasil mentransformasi rumput laut dengan menggunakan perantara Agrobacterium tumefaciens untuk mendapatkan ketahanan terhadap hiposalin (2016 2018) yang dilakukan oleh Dr Erina Sulistiani.

Selain itu di bidang kultur jaringan, Biotrop juga telah mengembangkan tanaman yang bernilai ekonomi tinggi seperti: kayu jati, jabon, sengon, chesnut, anubias, talas satoimo, gaharu, kayu putih dan beberapa tanaman lokal langka. Bibit tanaman yang diproduksi oleh lab Kultur Jaringan memiliki tingkat kematian yang sangat rendah.

Adi Nuryanto, Koordinator Kerjasama Luar Negeri, Biro Kerjasama dan Hubungan Masyarakat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menambah, upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang pertanian saat ini sedang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Melalui Kerjasama dengan Seameo Biotrop dengan mendirikan Program Sekolah Mandiri Produksi Sayuran dan Buah Edukasi (Smarts-Be) untuk sekitar 30 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bidang agribisnis dan agroteknologi seluruh Indonesia.

Lanjut dia, menerangkan bahwa revitalisasi SMK dalam Rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing SDM Indonesia mengamanatkan SMK merupakan salah satu ujung tombak pertanian nasional yang diprioritaskan.

Penguasaan teknologi pertanian perlu diberikan kepada siswa didik di SMK Pertanian karena teknologi pertanian di Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara lain. Hal ini mengingat beberapa kebutuhan pangan dalam negeri masih mengimpor dari luar negeri, padahal Indonesia memiliki potensi yang belum dikembangkan.

Revitalisasi SMK Pertanian diharapkan dapat mengatasi kekurangan bahan pangan di Indoneia dengan menciptakan tenaga terampil dan wirausaha bidang pertanian. (mh)

Leave A Reply

Your email address will not be published.