Portal Berita Online
Ads Beras Haji

Prof Rokhmin Dahuri: Budidaya Lobster Bangun Masa Depan Bangsa

0 8

JAKARTA, KABARPANGAN.ID – Koordinator Penasihat Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Riset dan Daya Saing Prof Rokhmin Dahuri menyampaikan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan bertambahnya penduduk kelas menengah ke atas, maka permintaan komoditas maupun produk olahan lobster akan terus meningkat.

Mencermati hal itu, menurut Guru Besar Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB ini, Indonesia memiliki potensi benih lobster untuk dibudidayakan dan lobster dewasa bisa dipanen baik dari alam maupun laut. Artinya, potensi pasar lobster sangat besar.

“Sebagaimana yang diinstruksikan Presiden Joko Widodo bhwa sektor budidaya merupakan masa depan bangsa, termasuk di antaranya budidaya lobster,” ujarnya dalam diskusi daring bertajuk ”Peluang Berbisnis Budidaya Lobster”, di Jakarta, Selasa (25/8).

Budidaya benur. Foto: Dok Kementerian Kelautan dan Perikanan

Rokhmin sepakat dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan (KP) Nomor 12 Tahun 2020 tentang Pengelolaan lobster, kepiting, dan rajungan. Kebijakan tersebut kata dia, akan menjadi Indonesia sebagai sentra budidaya lobster dunia pada 2024 mendatang.

“Kita semua bersepakat bahwa budidaya adalah masa depan bangsa Indonesia. Sebab itu, budidaya lobster harus dikelola secara industrial. Kalau kita berhasil membangun budidaya lobster, maka bisa membangun kesejahteraan,” katanya.

Ads Air Haji

Dalam kesempatan itu dia juga menyampaikan, ekspor benih lobster yang diatur dalam Permen KP 12/200, sifatnya hanya sementara dan terbatas serta terkendali.

“Oleh karena itu, saya haqqul yaqin budidata lobster ini akan menjadi prime mover ekonomi,” ucapnya.

Memang tidak mudah dalam mengembangkan lobster, ada sejumlah tantangan, dia menyebutkan, misalnya pakan buatan yang belum berkembang, masih berbasis pakan ikan rucah yang musiman, mutu tidak standar dan pembawa penyakit (pathogen carrier).

Nah, Rokhmin memberikan sejumlah solusi untuk mengatasi persoalan tersebut, di antaranya pengembangan usaha budidaya lobster di wilayah perairan NKRI. Restocking (pelepas liaran) lobster ukuran 50 gram ke ekosistem laut, pengembangan pusat pembenihan (hatchery) lobster di Indonesia bekerjasama dengan University of Tasmania, Australia.

“Kemudian, ekspor benih lobster secara terbatas dan terkendali ketat dengan jumlah dan waktu maksimum tiga tahun,” jelasnya.

Menteri Kelautan dan Perikanan (MenKP) Edhy Prabowo dalam beberbagi kesempatan menegaskan, bahwa dengan membuka keran penangkapan benih lobster untuk dibudidaya maupun diekspor adalah salah satu cara untuk menyejahterakan nelayan kecil yang bergantung hidup dari menangkap benur. Hal ini tertuang dalam Permen KP 12/2020, sebagai peganti Peremen KP 56/2020.

“Kalau ditanya berdasarkan apa kami memutuskan? Nilai historis kemanusiaan karena rakyat butuh makan. Tapi berdasarkan ilmiah, juga ada. Kalau ditanya dulu penelitian seperti apa? Dulu tidak ada. ini ada Dirjen-dirjennya, belum berubah orang-orangnya,” kata Edhy pada Senin (6/7). (mh/kp)

 

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.