Portal Berita Online
Ads Beras Haji

Segudang Keuntungan Tanam Padi dengan Metode SRI

Penulis Drs Tarjono Mkes, Anggota Korps Alumni Himpunan Mahasiswa (KAHMI) Ciputat Bendahara pembangunan gedung Nurcholis Majid Training Centre

0 47

Sebelum saya membagikan pengalaman soal menanam padi dengan pola SRI atau System of Rie Intensification. Perlu saya sampaikan, bahwa saya sebetulnya tidak kompeten untuk menuliskan masalah (SRI), karena background saya jauh berbeda, bukan ahli pertanian maupun insinyur pertanian. Tapi, mohon maaf dalam kesempatan ini saya ingin membagikan pengalaman saya menanam padi dengan metode SRI.

Mungkin masih banyak yang belum tahu apakah SRI itu. Tadi sudah saya jelaskan di atas kepanjangan dari SRI. Ya, SRI adalah merupakan inovasi budidaya padi organik. Di beberapa tempat, SRI dilaporkan telah berhasil meningkatkan produktivitas hingga dua kali lipat.

Metode SRI pertama kali dikembangkan di Madagaskan oleh FR Henri de Laulanie, SJ, seorang Pastor Jesuit asal Perancis. Dia mempublikasikan metode temuannya pada tahun 1983. Pada tahun 1994, sebuah lembaga swadaya masyarakat bernama Tefy Saina dan Cornel International Institute for Food and Agriculture Development (CIIFAD) mulai bekerjasama dalam pengembangan SRI. Percobaan pertama di luar Madagaskar dilakukan tahun 1999. Melalui bantuan CIIFAD, metode SRI menyebar ke negara lain, termasuk di Indonesia.

Sesuai dengan judul di atas, pola tanam SRI banyak memiliki keunggulan dibandingkan tanam secara tradisional atau konvensional, yakni baik dari sisi produksi yang meningkat hingga dua kali lipat, juga dijamin sehat, karena ramah lingkungan. Sangat pas dikonsumsi di mana saat ini masyarakat sadar akan kesehatan di tengah pandemi Covid-19.

Keunggulan budidaya SRI di antaranya, pertama tanaman hemat air. Karena selama pertumbuhan dari mulai tanam sampai panen memberikan air maksimal 2 sentimeter, paling baik sekitar 5 sentimeter dan ada periode pengeringan sampai tanah retak (irigasi terputus).

Kedua, hemat biaya, hanya membutuhkan benih 5 kilogram per hektar. Dan, tidak memerlukan biaya pindah bibit, tenaga tanam kurang, dan lain-lainnya. Ketiga, hemat waktu. Tanaman bibit muda 5 – 12 hari setelah semai, dan waktu panen akan lebih awal. Keempat, produksi meningkat di beberapa tempat mencapai 11 ton per hektar, dan terakhir, ramah lingkungan. Tanaman ini tidak menggunakan bahan kimia dan digantikan dengan mempergunakan pupuk organik (kompos, kadang dan mikro-orgisme lokal), begitu juga penggunaan pestisida.

Sedangkan hasil akhir dari pola tanam SRI, bisa dilihat dari beberapa aspek. Namun yang pasti, tanaman ini berupa beras organik yang memiliki kualitas tinggi sebagai beras sehat. Berikut beberapa aspeknya:

Drs Tarjono Mkes

Pertama, aspek lingkungan, yakni dengan menghilangkan penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia dan manajemen penggunaan air yang terukur secara tidak langsung telah membantu mengkonservasi lingkungan.

Kedua, aspek kesehatan, bagi konsumen produk yang dihadilkan akan lebih sehat. Ketiga, produktivitas tinggi, bagi produsen atau petani. Dan, keempat, berkualitas tinggi karena produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang lebih baik dibanding dengan produk konvensional.

Sementara untuk menanam padi SRI terdapat delapan prinsip yang harus diperhatikan. Dengan begitu, hasil yang diperoleh kemungkinan kecil tidak akan mengalami kegagalan. Delapan prinsip itu adalah, Pertama, tanaman bibit muda berusia kurang dari 12 hari setelah semai ketika bibit mauh berdaun dua helai. Kedua, bibit ditanam satu pohon perlubang dengan jarak minimal 25 sentimeter atau maksimal 30 sentimer persegi. Ketiga, pindah tanam harus sesegera mungkin (kurang dari 30 menit) dan harus hati-hati agar akar tidak putus.

Keempat, penanaman padi dengan perakaran yang dangkal. Kelima, pengaturan air, pemberian air maksimal 2 sentimeter dan tanah tidak diairi secara terus-menerus sampai terendam dan penuh, namun hanya lembab (irigasi berselang atau terputus). Keenam, peningkatan aerasi tanah dengan penggemburan atau pembajakan. Ketujuh, penyiangan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 hari. Kedelapan, menjaga keseimbangan biota tanah dengan menggunakan pupuk organik.

Mengenai pengembangan tanam SRI. Pada tahun 2014 sampai 2017, saya sendiri langsung terjun langsung membuktikan keunggulan dengan metode tanam SRI di wilayah kegiatan PIRIMP, di daerah Irigasi Ciliman, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Program PIRIM (Participatory Irrigation Rehabilition Improvement Management Project) merupakan proyek Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR). Proyek ini terlaksana hasil kerjasama dengan Japan Bank International Cooperation.

Secara garis besar kegiatan yang dilakukan ada dua jenis, yaitu bidang teknis dan non teknis, yakni melakukan rehabilitasi dan membangun bendung yang baru, serta ada terdapat bidang non teknis atau biasa disebut (soft Component), dalam bidang soft component inilah kegiatan SRI dilaksanakan di 10 provinsi yang meliputi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banjarmasin, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Barat dan Sumatera Utara.

Pada saat mengembangkan tanam SRI di daerah Irigasi Ciliman kabupaten Pandeglang Serang, terbilang sangat sulit. Kesulitan karena petani di daerah ini sudah terbiasa menanam padi dengan pola tanam secara konvensional. Jadi banyak sekali menemukan hambatan ketika itu.

Kami pun pada akhirnya mencoba memutar otak, bagaimana agar kegiatan uji coba ini dapat diikuti para petani. Hingga akhirnya kami memutuskan memberikan bibit, pupuk, penanaman, pemeliharaan diberikan kepada petani secara gratis. Sementara, lahan sawah, kami meminjam dari petani. Apalagii, hasil panen semuanya kami serahkan kepada pemilik sawah.

Ads Air Haji

Tapi hanya dua petani saja yang bersedia meminjamkan sawahnya. Alasannya, mereka khawatir akan gagal panen, apalagi yang ditanam hanya satu batang padi. Bahkan, beberapa petani menyebutnya sudah mulai gila, kurang kerjaanlah, dan sebagainya.

Hambatan itu tidak menjadi halangan bagi kami. Ya, tetap jalan terus, uji coba pertama di lahan sawah kurang lebih 0,5 hektar. Dalam perkembangannya, padi tumbuh subur dan berkembang jauh dari perkiraan petani yang selama ini tidak percaya dengan pola tanam SRI. Pak Sumirat, pemilik sawah yang meminjamkan sawahnya kepada kami, terihat sumringah. Dia mengatakan tidak bosan-bosannya pagi, siang dan sore melihat sawahnya, sambil berdecak kagum.

“Kok bisa ya hanya sebatang padi yang ditanam tapi dalam satu rumpun sekarang tumbuh lebih dari 20, bahkan sampai 25 batang padi setiap rumpunnya, padahal air yang digunakan tidak seberapa,” ujarnya sambil keheranan senang.

Sawah Pak Sumirat yang berada di tepat jalan, sontak saja menjadi tontonan banyak orang yang berlalu-lalang di depan sawahnya. Banyak dari warga sekitar dan desa lain yang menonton padi SRI di lahan Pak Sumirat, mereka bukan hanya sekadar menonton saja, tetapi juga menggunjing.

Hingga tiba panen, banyak masyarakat setempat dan desa lain yang ingin menyaksikan panen padi SRI. Mereka ingin tahu di lahan seluas 0,5 hektar berapa banyak padi atau Gabah Kering Panen (GKP) yang dihasilkan. Ternyata, tentu saja hasil panen lebih besar ketimbang secara konvensional. Jika biasanya panen sekitar 2,5 ton paling banyak, namun dengan metode SRI dapat menghasilkan padi 5 ton GKP. Jadi, tentu saja pola tanam SRI lebih menguntungkan ketimbang konvensional, karena produksinya hampir 100 persen.

Setelah itu, kami kemudian mengembangkan SRI di wilayah irigasi yang sedang dibangun di 10 provinsi seperti yang telah disebutkan di atas. Hasil panen seluruhnya meningkat paling kecil sekitar 80 persen dan yang tertinggi di wilayah Irigasi Sampean Kabupaten Situbondo, Jawa Timur dan di Irigasi Leuwigoong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, bisa mencapai 125 persen.

Pertanyaannya kemudian apakah keberhasilan tersebut diikuti oleh petani yang lain untuk mencoba menanam padi dengan pola SRI, sebagian memang ada yang mencoba mengikutinya, dan kebanyakan tidak. Kok bisa? Kan jelas nyata keberhasilan panennya meningkat rata-rata mencapai 100 persen. Apa sebabnya petani tidak mau mengikutinya, bahkan yang telah mengikuti program uji coba pun kembali menanam padi dengan pola konvensional, apa sebabnya ini?

Jawabannya adalah, setelah dilakukan studi kecil-kecilan secara sederhana, melalui FGD, dan dialog langsung dengan beberapa petani, ditemukan beberapa hal yang menyebabkan tidak diikutinya pola tanam padi melalui metode SRI, antara lain:
Pertama, pemerintah dalam hal ini khususnya Kementrian Pertanian (Kementan) sifatnya hanya mengimbau agar para petani bila memungkinkan menanam padi dengan pola SRI atau biasa di Indonesia di sebut juga dengan istilah Jajar Legowo.

Kedua, para petani karena ditanam hanya sebatang padi, maka tingkat kegagalannya menurut mereka sangat tinggi, dimakan keong, rubuh diterpa angin, atau akarnya belum kuat karena umur bibit hanya 10 sampai 12 maksimal.

Ketiga, takut gagal tanam, karena musim tanam serempak akan datang di musim tanam berikutnya, oleh karena itu bila gagal maka satu periode tanam petani tidak bisa ikut tanam seperti petani yang lain, maka dengan konvensional akan lebih aman dan sudah biasa bertahun-tahun.

Keempat, hasil jual padinya/berasnya sama saja dengan padi biasa yang dipupuk oleh pupuk kimia, padahal padi SRI dipupuk oleh pupuk organik, walau harganya lebih murah tapi menyediakannya sulit, perlu waktu dan tenaga. Beda halnya dengan pupuk kimia tinggal beli di warung kemudian ditebar.

Kelima, perawatannya harus lebih intensif dibandingkan dengan menanam padi yang konvensional, memerlukan tenaga kerja yang cukup, airnya harus selalu dikontrol dan dilihat khawatir tergenang/padinya terendam.

Keenam, dampingan dari para tenaga penyuluh pertanian khususnya dalam hal ini sangat kurang, kalaupun ada bukan tentang SRI atau Jajar Legowo, tapi dalam bidang lain.

Ya, intinya petani tidak mau lebih repot sedikit, padahal bila dibandingkan dengan hasil panen yang signifikan bedanya, maka kerepotan tersebut sebetulnya telah terbayar, apalagi bila punya kebiasaan menanam padi setelah tanam hanya di tengok sekali dua kali kemudian ditinggal, dan ditengok lagi saat mau panen tiba. Maka akan sulit petani seperti ini mengikuti pola tanam padi dengan SRI.

Padahal, menanam padi pola SRI dengan hasil yang melimpah seperti ini, tentu jangka panjangnya adalah dapat menciptakan swasembada pangan seperti yang pernah tercapai pada zaman Orde Baru, tidak lagi kita tergantung dengan impor beras dari negara tetangga.

Tentu kondisi ini sangat ironis negara agraria yang mayoritas penduduknya adalah petani, tetapi beras, kedelai, bawang, jagung, garam dan lain-lain masih didatangkan dari impor. Di samping impor tidak dilakukan lagi tentunya dapat meningkatkan ketahanan pangan bagi penduduk kita yang mayoritas pengkonsumsi beras.

Belum lagi masalah ketahanan pangan ini juga digrogoti dengan alih fungsi lahan sawah non pertanian, seperti perumahan, perkantoran, pasar, jalan, perkebunan dan lain-lainnya. Terutama di Jawa dan Sumatera, sementara program percetakan sawah jauh tertinggal di belakang bila dibandingkan dengan hilangnya sawah beririgasi teknis menjadi peruntukan lain. Wallahu a’lam bish-shawabi

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.