Portal Berita Online
Ads Beras Haji

Sinergi Semua Pihak, Karhutla Turun Tahun Ini

0 10

JAKARTA, KABARPANGAN.ID – Mengacu data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tren kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengalami penurunan tahun ini. Meski begitu, pemerintah beserta semua pihak tetap harus waspada terhadap bahaya api yang puncaknya terjadi menjelang September ini.

Data KLHK, dari Januari – 31 Juli 2020 secara keseluruhan kebakaran karhutla mengalami penurunan 52,41 persen menjadi 71.145 hektar (ha). Angka ini lebih rendah dibandingkan periode sama tahun lalu 135.747 hektar.

Direktur Perlindungan Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Ardi Praptono menjelaskan, penurunan karhutla tahun ini karena adanya sinergi semua pihak. Kementan secara aktif melakukan sosialisasi regulasi dan penerapan Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) di enam provinsi rawan karhutla yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Langkah lainnya, lanjut dia, membentuk Brigade Karlabun dan Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) sebanyak 3.181 orang. Hingga tahun 2019, telah terbentuk 17 Brigade Kartabun dengan total jumlah personel 1.051 orang. Selain itu, juga telah terbentuk 142 KTPA dengan total anggota petani sebanyak 2.130 orang.

Dia menyebutkan, tahun ini Kementan menyiapkan dana dalam pencegahan karhutla sebesar Rp 4,55 miliar, dari sebelumnya dianggarkan mencapai Rp12,1 miliar.

“Akibat adanya pandemi Covid-19, anggaran tersebut diefisienkan. Dari anggaran tersebut sudah dibuat demplot pembukaan lahan perkebunan tanpa membakar di Kalimantan Tengah. Fokus lain penggunaan dana ini yaitu operasional brigade karlabun dan pengawalan penanganan kebakaran lahan serta perkebunan,” ujar Ardi dalam diskusi webinar Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) bertajuk “Persiapan Industri Sawit Hadapi Karhutla di Tengah Pandemi COVID-19” di Jakarta, Selasa (25/8).

Untuk itu, Ardi meminta perkebunan juga menyiapkan diri untuk mengatasi kebakaran. Bahkan Kementan punya sanksi tegas yang tertuang dalam Undang-Undang Perkebunan No 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan.

“Pada Pasal 108 dijelaskan, setiap Pelaku Usaha Perkebunan yang membuka dan/atau mengolah lahan dengan cara membakar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp10 miliar,” katanya.

Kepala Sub Direktorat Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK Anis Susanti Aliati mengatakan, tahun ini pencegahan karhutla lebih baik dibandingkan tahun depan.

Ads Air Haji

“Berdasarkan prediksi BMKG tahun ini terjadi kemarau basah mendukung pengurangan areal karhutla. Selain nitu, teknologi modifikasi cuaca (TMC) kita lakukan lebih awal pada akhir musim hujan yakni mulau bulan Maret 2020,” ungkap dia.

Meskipun diakuinya, TMC bukan satu-stunya cara pengendalian karhutla. Menurut dia , ada solusi lain yakni optimalisasi pemanfaatan data iklim dan monitoring cuaca.

“Selain itu, pengelolaan dari para pemegang konsensi lahan agar melakukan kegiatan pembukaan lahan tanpa bakar. Misalnya imbah hasil pembukaan bisa dimanfaatkan untuk membuat cuka kayu atau disinfektan,” ucapnya.

Dia menambahkan, bahwa BMKG memprediksi puncak musim kemarau tahun ini terjadi pada bulan Juli-September. “Sebaiknya, kita semua lebih waspada terutama Agustus ini dan berharap karhutla tahun ini tidak meningkat,” kata dia.

Sementara Ketua Bidang Sustainibility Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Bambang Dwi Laksono ada empat tantangan dalam penanganan karhutla yang dihadapi saat ini.

Pertama, lahan perkebunan pada umumnya berada di remote area dengan sistem komunikasi dan transportasi yang terbatas.

Kedua, masih ada peraturan perundangan yang membolehkan pembakaran lahan untuk membuka lahan baru dengan alasan kearifan lokal.

Ketiga, dalam penanggulangan kebakaran terutama program edukasi bagi komunitas setempat.

“Terakhir, Pandemi Covid-19  menjadikan keterbatasan interaksi sehingga berpotensi menyebabkan rendahnya pelaksanaan program kerjasama dengan masyarakat lokal dalam penanganan karhutla,” tukasnya. (mh/kp)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.