Portal Berita Online
Ads Beras Haji

Teknologi Modifikasi Cuaca Solusi Penanganan Karhutla

0 14

JAKARTA, KABARPANGAN.ID – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), sebagai salah satu solusi dalam pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Teknologi rekayasa cuaca ini dulu dikenal sebagai teknologi hujan buatan bagian dari upaya pencegahan karhutla dengan cara pembasahan gambut.

“TMC dari segi biaya jauh lebih murah dari water boombing. Efektivitasnya juga jauh lebih tinggi, dengan TMC peluang terjadinya hujan merata di suatu wilayah terutama wilayah rawan karhutla, sehingga kita bisa menjamin tinggi muka air gambutnya, agar tetap basah dan tidak mudah terbakar,” ujar Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, KLHK (Dirjen PPI KLHK), Rhuanda Agung Suhardiman dalam video daring, baru-baru ini.

TMC disebutkan Presiden menjadi salah satu bagian solusi permanen, yaitu bagian analisis iklim, di samping dua bagian lainnya, yaitu pengendalian operasional dan pengelolaan landscape.

Ruandha menjelaskan, jika manfaat TMC untuk membasahi lahan gambut juga akan mengurangi asap akibat kebakaran, juga dapat memadamkan api pada wilayah yang luas, serta dapat mengatasi kekeringan.

Ads Air Haji

Pada pelaksanaannya TMC, lanjut dia, membutuhkan sinergitas beberapa instansi, seperti KLHK, BPPT, BMKG, BNPB dan TNI AU. Ke depan sinergitas antar instansi akan diperkuat menjadi sistem yang bekerja secara otomatis tanpa perlu adanya permintaan TMC.

“Tentunya para pembakar lahan itu akan melakukan aksinya dengan melihat kondisi lapangan. Kalau masih ada hujan mereka akan membatalkan niatnya membakar lahan. Sekarang kita juga sedang melakukan upaya sosialisasi upaya pembukaan lahan tanpa bakar,” tuturnya.

Deputi Pengembangan Sumberdaya Alam BPPT Yudi Anantasena menambahkan, jika efektivitas TMC sudah dibuktikan, salah satu contohnya di Provinsi Riau. Hasil upaya TMC sejak tanggal 13 – 31 Mei 2020 curah hujan di Provinsi Riau meningkat menjadi 157 mm yang berarti lebih tinggi 22,4 persen dari prediksi curah hujan BMKG dan juga lebih tinggi 36 persen dari rata-rata curah hujan di Provinsi Riau periode 2009 – 2019.

Hal ini juga terjadi di provinsi Sumatera Selatan dan Jambi yang juga mengalami peningkatan curah hujan sekitar 20 hingga 30 persen akibat dilakukannya TMC pada tanggal 2 – 19 Juni 2020 di Jambi dan tanggal 2 – 18 Juni di Sumatera Selatan.
“Perlu adanya ekosistem TMC yang solid agar kemajuan teknologi ini dapat diakselerasi,” pungkasnya. (mh/kp)

Leave A Reply

Your email address will not be published.