Portal Berita Online
Ads Beras Haji

Transformasi Akuakultur di Era Disruptif

0 6

JAKARTA , KABARPANGAN.ID – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) harus melakukan transfromasi akuakultur menghadapi pandemi Covid-19.

“Paradigma baru harus terus kita bangun dalam rangka menghadapi transformasi akuakultur di era disruptif ini, era di mana perubahan fundamental yang sangat cepat dalam merubah pola tatanan lama, melalui industrialisasi perikanan budidaya yang efisien, bermutu dan berkelanjutan,” jelas Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, dalam keteranannya, Rabu (30/9).

Lanjut dia, strategi industrialisasi perikanan budidaya antara lain inovasi teknologi produksi untuk mendorong peningkatan produksi seperti revitalisasi tambak udang/bandeng dan model kluster sentra usaha, modernisasi dan digitalisasi dalam sistem produksi dan mendorong rantai pasok industri perikanan budidaya, dan pengembangan komoditas unggulan bernilai ekonomis tinggi yang berorientasi pemenuhan kebutuhan pasar domestik dan ekspor dengan penerapan sistem jaminan mutu produk melalui sertifikasi.

“Kita bangun kawasan kawasan perikanan budidaya berbasis pada teknologi yang sesuai dengan asas-asas keberlanjutan, bukan hanya lingkungannya saja tetapi juga usahanya harus berlanjut, keberlanjutan sosial ekonominya juga harus berlanjut,” ujar Slamet.

Perikanan budidaya memanfaatkan teknologi 4.0 melalui automatisasi sistem produksi dan inovasi digitalisasi dalam bisnis perikanan sehingga rantai pasok semakin efisien dan keuntungan pembudidaya meningkat.

Ads Air Haji

“Saya memberikan apresiasi kepada inovasi digital dalam bentuk startup bidang perikanan yang telah berjalan sebagai bentuk implementasi penerapan teknologi, dan berharap dapat terus berkembang dari segi pemanfaatan dan ditingkatkan di berbagai level di era pandemi ini,” tuturnya.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, Prof Widanarni mengatakan, kehilangan produksi akuakultur global akibat serangan penyakit mencapai USD 6 miliar per tahun dan juga akibat penyakit infeksi ini menyebabkan kehilangan 40 persen dari total produksi akuakultur global.

“Kita harus pahami keberadaan dan peran mikroba meskipun tidak dapat dilihat dengan kasat mata namun perannya begitu besar seperti pemanfaatan probiotik yakni mikroba hidup yang ditambahkan dan memberikan pengaruh menguntungkan bagi inangnya dengan memodifikasi komunitas mikroba, sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen seperti Vibrio sp,” ujarnya.

Senada, Co-Founder JALA Aryo Wiryawan mengatakan, terkait transformasi digital pada budidaya tambak udang. Petambak nantinya akan semakin mudah dalam memantau perkembangan tambaknya dalam hal data budidaya darimana saja dan kapan saja.

“Adanya komputerisasi data digital dapat menghasilkan perhitungan yang tepat dan akurat. Kelebihan lain yang didapat dari metode tersebut adalah semua data budidaya tersimpan dengan aman dan rapi tanpa khawatir rusak dan hilang, data budidaya dapat dibuka kapan saja dan di mana saja, serta data budidaya dapat disajikan dalam bentuk yang mudah dianalisa,” pungkasnya. (mh/kp)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.