Portal Berita Online

Ujang Margana, Petani Milenial yang Bikin Kagum Jokowi

0 115

JAKARTA, KABARPANGAN.ID – Ujang Maragana, pemuda berusia 25 tahun, petani milenial yang beruntung diundang Presiden Joko Widodo ke Istana. Mungkin bisa dihitung dengan jari, petani muda dapat kesempatan dipanggil presiden. Memangnya apa sih keistimewaan Ujang ini?

Ujang Margana berasal dari Kampung Cimenyan, Kabupaten Bandung. Sederet prestasi terkait pertanian dikantonginya, antara lain sebagai pemuda tani teladan tingkat kabupaten dan provinsi. Maka, atas dedikasinya itu pada bidang pertanian membuat Jokowi kepincut.

Dia terlahir dari anak seorang petani. Sejak kecil ia sudah terbiasa, melihat ayah dan ibunya bercocok tanam. Dari situ tumbuh kecintaannya pada dunia tanam.

Meski cinta pada dunia pertanian, namun selepas SMA, ia tidak mengambil fakultas yang berhubungan dengan sektor pertanian. Malah, ia mengambil Fakultas Sosial dan Politik Universitas Al-Ghifari Bandung.

Kendati begitu, ilmu pertaniannya yang diperoleh dari otodidak dan melihat cara kedua orangtuanya menanam cukup dalam.
Hingga suatu ketika, Ujan dikejutkan mendapatkan uang Rp 35 juta dari ayahnya. Uang tersebut dari hasil sekali tanam sekitar 70 hari. Nah, dari potensi keuntungan yang berlipat-lipat itulah Ujang berani usaha tani.

Ia kemudian membentuk kelompok tani yang diberi nama Tricipta. Dari situlah usaha taninya mulai berkembang dan dikenal luas. Ia bersama kelompak taninya menggarap lahan seluas 50 hektar (ha).

Menjelang Idul Fitri, bulan Mei 2016, harga bawang merah melonjak di pasaran. Jika biasanya Rp 20.000 menjadi Rp 40.000-Rp 50.000 per kilogram (kg) di Bandung. Di Jakarta, harganya mencapai Rp 60.000-Rp 70.000.

Ujang kemudian mengumpulkan kelompok taninya. Dia meminta kepada kelompok taninya untuk tidak menaikkan harga jual.
Ia bersama kelompok taninya hanya menjual Rp 20.000. Harga tersebut untuk menekan harga di pasaran. Padahal, bisa saja dia menjual lebih mahal, namun karena keuntungan yang sifatnya sementara hanya satu kali musim, tidak dilakukannya.

Sebab jika menjual dengan harga tinggi, maka akan terjadi impor. Akibatnya, selama tiga kali musim tanam akan mengalami kerugian.

Tak sampai di situ saja, ujang mengajak kelompok taninya datang ke Jakarta membawa 120 ton bawang merah. Tujuannya, untuk menstabilkan harga untuk membantu Kementerian Pertanian melalui operasi pasar.

“Saya dan kelompok tani saya hanya mengantongi untung Rp 4.000 per kilogram. Meski kecil, alhamdulillah, harga bawang merah di pasaran bisa kita tekan,” ucapnya puas mengenang kala itu.

Nah, dari situlah Jokowi kagum dengan cara berpikir Ujang, tidak hanya memikirkan bisnis semata, tetapi juga ikut memikirkan masyarakat dengan menstabilkan harga di pasaran. Salut buat Ujang! (mh/kp)

Leave A Reply

Your email address will not be published.